Skip to main content

Karena Kita Hanya Manusia Biasa

Tahun ini menjadi tahun yang luar biasa rasanya. Tahun dimana Allah memberikan aku kesempatan untuk belajar banyak hal yang membuat aku bertumbuh dan terus belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya (Semoga ya Allah).

Aku sadar manusia itu tempatnya salah. Aku ingin itu menjadi bahan perenungan untuk aku. Tidak perduli siapa salah dan siapa benar dalam menghadapi persoalaan apapun. Tugas manusia adalah berinstrospeksi. Jika aku selalu merasa aku adalah korban, maka aku tidak akan pernah belajar arti memperbaiki diri. Tapi aku juga tidak akan melabeli diri aku sebagai pelaku, karena artinya aku melabeli diri aku sendiri sebagai orang yang buruk. Kita hanya sesimpel bahwa diri kita ini manusia biasa. Kita selalu memiliki kesempatan untuk menjadi salah, dan kita juga selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. That’s it.

Dalam menghadapi turbulensi kehidupan, setiap manusia punya caranya masing-masing untuk bisa segera keluar dari hal-hal yang tidak menyenangkan itu. Tapi tidak jarang juga ada yang terjebak di dalamnya dan tidak tahu bagaimana caranya untuk keluar, dan saat mengalami hal semacam ini, aku rasa kita perlu mencari pertolongan, bukan hanya berdiam dan membiarkan diri tenggelam dalam gelombang tersebut.

Aku mendapatkan sebuah nasehat dari seseorang “Jika kamu cukup mampu mengatasi semua rasa sakit itu sendiri tanpa membuat kamu hancur, maka tahanlah sendiri. Tapi jika kamu merasa tidak cukup kuat untuk menahannya, maka carilah pertolongan. Kamu berhak mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan, tanpa terus memendam luka batin terlalu lama di hati kamu. Sampah itu harus dibuang, bukan disimpan.”

Aku menulis ini karena akhir-akhir ini banyak sekali opini-opini yang mengatakan bahwa dari pada mahal-mahal ke Psikolog/Psikiater saat kita menghadapi luka batin mending uangnya dipake aja buat healing yang lain kayak liburan, beli makan-makanan enak, atau belanja sesuatu yang kita suka.

Memang benar, cara menghadapi luka batin setiap orang berbeda-beda. Ada yang memang cukup dengan pergi berlibur, atau beli makan-makanan yang enak lalu dia bisa kembali baik-baik saja. Tapi ada juga yang memang tidak bisa dilakukan dengan hal-hal semacam itu. Dan untuk kasus yang demikian aku rasa mau tidak mau kita harus datang ke ahlinya.

Aku bukan seorang Psikolog atau pakar yang mengerti tentang mental health, tapi dari pengalaman aku sendiri, mengatasi banyak sekali emosi-emosi dalam diri sendiri ternyata tidak sesederhana itu. Terkadang pergi berlibur, atau berbelanja, makan-makanan enak yang kita suka, itu hanya bagian dari “escaping”, sedangkan akar masalahnya tidak sama sekali hilang, ia tetap ada di sana. Mungkin hanya terpendam sesaat. Cepat atau lambat ketika ada trigger, ia akan muncul kembali.

Luka batin itu aku mengibaratkan seperti luka fisik pada umumnya. Ada yang dibiarkan saja sembuh, ada yang memang perlu penangan khusus agar cepat sembuh. Dan untuk tahu luka jenis mana yang kita punya, aku rasa hanya diri kita sendirilah yang bisa menilai.

Kalau menurut opini aku sebagai orang yang memilih untuk berkonsultasi pada ahlinya, itu tidak sama sekali buang-buang uang kok. I know itu gak murah, dan memang butuh berkali-kali sesi konsultasi untuk benar-benar kita dapat mengurai benang kusut yang ada dalam hati dan pikiran kita. Tapi buat aku itu worth it. Aku merasa sangat tertolong untuk akhirnya bisa berproses dan belajar meregulasi semua emosi-emosi tersebut.

Lalu gimana sama orang yang gak punya uang dan membutuhkan pertolongan. Nah, dari hasil pencarian aku di google dan dari informasi orang-orang yang pernah aku tanya katanya BPJS Kesehatan menanggung biaya konsultasi dengan dokter, terapi, dan obat-obatan untuk mengatasi depresi.

Tapi apapun itu, aku harap kita jangan lagi memiliki pemikiran bahwa orang-orang yang sedang mengalami mental health issue sebagai orang yang tidak dekat dengan Tuhan, atau orang yang kurang beriman. NO! Jangan ya. Kita tidak tahu bagaimana mereka menjalani hari-hari mereka dan berjuang untuk tetap bertahan sampai detik ini.

Aku jadi teringat bahwa di zaman Rosulullah banyak juga orang-orang yang datang berkonsultasi pada Rosulullah untuk mendapatkan advice dari Rosulullah, karena memang pada dasarnya sejak zaman dahulu manusia memang makhluk sosial, yang butuh mengeluarkan isi hati, butuh didengarkan, dan butuh teman untuk bercerita.

Sekali lagi, karena kita hanya manusia biasa. Ada kalanya kita salah, ada kalanya kita lemah, ada kalanya kita terpuruk, ada kalanya kita hilang arah. Dan itu tidak apa-apa. C’est La Vie, hidup ya memang begini adanya, jadi dijalani saja dengan sabaik-baiknya. Selalu ada Pelangi setelah hujan. Janji Allah juga ada di Al-Quran, setelah kesulitan akan ada kemudahan.


Comments

  1. MBA I LOVE YOU 💜
    Sehat selalu mba Lalang

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog