Tahun ini menjadi tahun yang luar biasa rasanya. Tahun dimana Allah memberikan aku kesempatan untuk belajar banyak hal yang membuat aku bertumbuh dan terus belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya (Semoga ya Allah).
Aku
sadar manusia itu tempatnya salah. Aku ingin itu menjadi bahan perenungan untuk
aku. Tidak perduli siapa salah dan siapa benar dalam menghadapi persoalaan
apapun. Tugas manusia adalah berinstrospeksi. Jika aku selalu merasa aku adalah
korban, maka aku tidak akan pernah belajar arti memperbaiki diri. Tapi aku juga
tidak akan melabeli diri aku sebagai pelaku, karena artinya aku melabeli diri
aku sendiri sebagai orang yang buruk. Kita hanya sesimpel bahwa diri kita ini manusia
biasa. Kita selalu memiliki kesempatan untuk menjadi salah, dan kita juga
selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. That’s it.
Dalam
menghadapi turbulensi kehidupan, setiap manusia punya caranya masing-masing
untuk bisa segera keluar dari hal-hal yang tidak menyenangkan itu. Tapi tidak
jarang juga ada yang terjebak di dalamnya dan tidak tahu bagaimana caranya
untuk keluar, dan saat mengalami hal semacam ini, aku rasa kita perlu mencari pertolongan,
bukan hanya berdiam dan membiarkan diri tenggelam dalam gelombang tersebut.
Aku
mendapatkan sebuah nasehat dari seseorang “Jika kamu cukup mampu mengatasi
semua rasa sakit itu sendiri tanpa membuat kamu hancur, maka tahanlah sendiri.
Tapi jika kamu merasa tidak cukup kuat untuk menahannya, maka carilah
pertolongan. Kamu berhak mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan, tanpa terus memendam
luka batin terlalu lama di hati kamu. Sampah itu harus dibuang, bukan
disimpan.”
Aku
menulis ini karena akhir-akhir ini banyak sekali opini-opini yang mengatakan bahwa
dari pada mahal-mahal ke Psikolog/Psikiater saat kita menghadapi luka batin mending
uangnya dipake aja buat healing yang lain kayak liburan, beli makan-makanan
enak, atau belanja sesuatu yang kita suka.
Memang
benar, cara menghadapi luka batin setiap orang berbeda-beda. Ada yang memang
cukup dengan pergi berlibur, atau beli makan-makanan yang enak lalu dia bisa
kembali baik-baik saja. Tapi ada juga yang memang tidak bisa dilakukan dengan
hal-hal semacam itu. Dan untuk kasus yang demikian aku rasa mau tidak mau kita
harus datang ke ahlinya.
Aku
bukan seorang Psikolog atau pakar yang mengerti tentang mental health, tapi dari
pengalaman aku sendiri, mengatasi banyak sekali emosi-emosi dalam diri sendiri
ternyata tidak sesederhana itu. Terkadang pergi berlibur, atau berbelanja, makan-makanan
enak yang kita suka, itu hanya bagian dari “escaping”, sedangkan akar
masalahnya tidak sama sekali hilang, ia tetap ada di sana. Mungkin hanya
terpendam sesaat. Cepat atau lambat ketika ada trigger, ia akan muncul kembali.
Luka
batin itu aku mengibaratkan seperti luka fisik pada umumnya. Ada yang dibiarkan
saja sembuh, ada yang memang perlu penangan khusus agar cepat sembuh. Dan untuk
tahu luka jenis mana yang kita punya, aku rasa hanya diri kita sendirilah yang
bisa menilai.
Kalau
menurut opini aku sebagai orang yang memilih untuk berkonsultasi pada ahlinya,
itu tidak sama sekali buang-buang uang kok. I know itu gak murah, dan memang
butuh berkali-kali sesi konsultasi untuk benar-benar kita dapat mengurai benang
kusut yang ada dalam hati dan pikiran kita. Tapi buat aku itu worth it. Aku
merasa sangat tertolong untuk akhirnya bisa berproses dan belajar meregulasi
semua emosi-emosi tersebut.
Lalu
gimana sama orang yang gak punya uang dan membutuhkan pertolongan. Nah, dari
hasil pencarian aku di google dan dari informasi orang-orang yang pernah aku
tanya katanya BPJS Kesehatan menanggung biaya konsultasi dengan dokter, terapi,
dan obat-obatan untuk mengatasi depresi.
Tapi
apapun itu, aku harap kita jangan lagi memiliki pemikiran bahwa orang-orang
yang sedang mengalami mental health issue sebagai orang yang tidak dekat dengan
Tuhan, atau orang yang kurang beriman. NO! Jangan ya. Kita tidak tahu bagaimana
mereka menjalani hari-hari mereka dan berjuang untuk tetap bertahan sampai
detik ini.
Aku
jadi teringat bahwa di zaman Rosulullah banyak juga orang-orang yang datang
berkonsultasi pada Rosulullah untuk mendapatkan advice dari Rosulullah, karena
memang pada dasarnya sejak zaman dahulu manusia memang makhluk sosial, yang
butuh mengeluarkan isi hati, butuh didengarkan, dan butuh teman untuk bercerita.
Sekali
lagi, karena kita hanya manusia biasa. Ada kalanya kita salah, ada kalanya kita
lemah, ada kalanya kita terpuruk, ada kalanya kita hilang arah. Dan itu tidak
apa-apa. C’est La Vie, hidup ya memang begini adanya, jadi dijalani saja dengan
sabaik-baiknya. Selalu ada Pelangi setelah hujan. Janji Allah juga ada di
Al-Quran, setelah kesulitan akan ada kemudahan.
MBA I LOVE YOU 💜
ReplyDeleteSehat selalu mba Lalang