Skip to main content

Tentang Waktu



Sebuah kebiasaan yang kerap keluarga gue lakukan sesaat setelah berbuka puasa adalah diskusi. Kami bisa mendiskusikan apapun setelah berbuka sambil nunggu makanan turun sebentar, sebelum kita sholat maghrib. Banyak hal yang biasanya kita diskusikan mulai dari masalah-masalah ringan yang lucu-lucu, masalah pendidikan, sampai tentang agama kami. Waktu itu sebelum berbuka gue dan adek gue nonton sebuah tayangan kultumnya Syeikh Ali Jaber tentang “Waktu.” Di sana beliau membukanya dengan membacakan suarat Al-Asr. Bagian yang membuat gue tertarik hingga gue tergelitik buat menulis ini adalah saat beliau mengatakan,

“Jika umur manusia itu berkisar sampai 60 tahun dan perkiraan bahwa manusia setiap harinya membutuhkan tidur sekian jam (gue lupa beliau bilang berapa jam) maka setelah dihitung, manusia menghabiskan waktu 20 tahunnya hanya untuk tidur. Belum lagi jika dihitung waktu yang dihabiskan manusia untuk bekerja, jalan-jalan, dan lain sebagainya. Lalu dihitung waktu yang manusia gunakan untuk ibadah kepada Allah (untuk sholat 5 waktu, just sholat 5 waktu tanpa tambahan sunnah dll) ternyata dari 60 tahun usia manusia, manusia hanya menggunakan 2,5 tahun untuk beribadah kepada Allah.”

Kurang lebih begitulah kata-katanya, lebih pastinya bisa liat di YouTube kali yaa, mungkin ada di sana tayangan ulangnya (mungkin, gue juga gak tahu). Nah kenapa itu berkesan banget buat gue? Karena itu seolah menjadi tamparan buat gue pribadi. Betapa di usia gue yang udah 24 tahun ini, mungkin waktu yang gue habiskan buat ibadah kepada Allah hanya berapa persen doang. Sedangkan selebihnya banyak banget waktu yang kebuang sia-sia. Dan maha benar Allah surat Al-Asr itu benar-benar menggambarkan betapa lalainya manusia.

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (Al-Quran: Al-Asr 1-3)”

Abis itu gue diskusikan masalah ini sama mamah gue saat kita abis berbuka puasa. Gue bilang bahwa kayaknya kita manusia ini memang suka gak tahu diri. Kita dikasih waktu sama Allah, terus Allah kasih kita banyak banget rahmatnya. Dan saat Allah hanya minta kita untuk beribadah dan itu sholat 5 waktu dalam sehari, hanya 5 waktu, gak sampe puluhan bahkan ratusan, terus kita masih lalai dan ogah-ogahan. Abis itu mamah gue bilang gini,

“Dosa manusia itu seperti debu yang berterbangan di udara yang akan selalu menempel pada tubuh manusia. Dan sholat itu diibaratkan sebuah air bersih yang bisa membersihkan debu-debu itu dari tubuh kita. Coba bayangin tiap hari kita ini pasti kan kena debu, terus kita jarang mandi, males mandi, gimana coba bentuk rupa kita. Jijik banget kan, kotor, dekil, bau, udah persis orang gila yang suka lewat depan jalan rumah tuh (emak gue nyontohinnya gitu coy :D). Makannya biar kita selalu bersih kita harus selalu mandi setiap hari. Begitupun dengan ibadah sholat 5 waktu, itu untuk membersihkan kita dari dosa-dosa yang kita baik sadar maupun tidak sering kita lakukan setiap harinya. Kalau gak mau sholat gimana coba bentuknya kita?”

Waktu mamah gue bilang begitu, gue akhirnya berfikir bahwa ternyata memang benar, selama ini semua ibadah yang Allah perintahkan ke kita itu ternyata semua manfaatnya ya buat kita sendiri. Manusia gak ibadah juga Allah sih gak rugi, malah kita lah yang rugi. Dan lagi-lagi surat Al-Asr itu menunjukkan kebenarannya kembali. Manusia memang akan dalam kerugian karena ulahnya sendiri. Terus abis itu mamah gue mengajukan sebuah pertanyaan.

“Jadi tugas manusia di dunia ini apa coba?”

Pertanyaan ini sebenarnya gampang untuk dijawab. Setiap manusia pasti tahu jawabannya, bahwa kita hidup di dunia tugasnya apa lagi kalau bukan untuk beribadah. Tapi kok ya rasanya ada sesuatu yang mengganjal gitu saat gue harus menjawab itu. Gue merasa bahwa meskipun gue tahu jawabannya, tapi gue tidak bisa memungkiri urusan dunia terkadang selalu menjadi prioritas. Jawaban “beribadah kepada Allah” itu seolah hanyalah sebuah kata-kata di mulut doang, tapi gak bener-bener diterapkan. Contohnya gini deh, ibadah itu kan gak sebatas sholat 5 waktu aja, banyak banget konteks ibadah itu. Salah duanya adalah, menuntut ilmu dan bekerja. Dua perkara itu tuh yang melekat banget dalam kehidupan manusia. Menuntut ilmu, bersekolah, itu kan juga bisa bernilai ibadah, bahkan dapat dikatakan jihad fisabilillah. Tapi jaman sekarang kayaknya nilai ibadahnya udah bergeser menjadi nilai materil. Jaman sekarang paradigmanya adalah sekolah untuk mencari kerja, kerja untuk mencari uang, uang untuk kehidupan yang lebih baik bagi keluarga. Para perempuan sekolah tinggi-tinggi terus nikah dan punya anak. Abis itu di nyinyirin sama tetangga-tetangganya,

“Tuh kan bener, perempuan tuh jangan sekolah tinggi-tinggi, sekolah tinggi-tinggi juga percuma ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga juga.”

Padahal yang namanya pendidikan itu bukan cuma buat cari kerja. Ilmu akan bernilai ibadah kalau kita sampaikan, kita amalkan, jadi ilmunya gak cuma berhenti di kita. Anak-anak dari seorang ibu yang berilmu dan si ibu mendidik anak-anaknya dengan ilmu yang dahulu pernah ia pelajari dan membuat anak-anaknya menjadi generasi yang cerdas, beriman, dan berguna untuk agama, bangsa, dan Negara, wuihh… itu pahalanya kayak apa ya? Gue aja punya cita-cita, setinggi-tingginya gue sekolah hal yang akan gue prioritaskan nanti saat gue udah nikah dan punya anak adalah mendidik anak gue biar jadi generasi yang cerdas dan beriman. Gue mikir, gue aja harus kuliah dulu at least sampe S1 buat bisa dapet ilmu dari seorang master, Doktor, dan professor. Dan gue mau suatu hari nanti saat gue punya anak, dari lahir anak gue udah dididik sama seorang ibu yang bergelar Doktor atau mungkin gue udah bisa jadi professor. Biar anak gue bisa menjadi generasi yang cerdas dan beriman sejak mereka masih kecil. Dan nanti saat mereka dewasa, anak-anak gue bisa menjadi orang yang berguna bagi agama, keluarga, bangsa, dan negaranya. Anak-anak yang cerdas lahir dari seorang ibu yang cerdas, bukan? Gue rasa itu bisa menjadi bentuk pengabdian gue ke Allah melalui ilmu yang udah Allah kasih ke gue. Jadi orientasi gue sekolah tinggi-tinggi bukan hanya sekedar dunia, tapi juga untuk mengabdi ke Allah, dan untuk beribadah kepada-Nya.

Tentang waktu. Waktu itu benar-benar menakutkan tanpa kita sadari. Gue merasa waktu itu cepet banget, kemarin baru minggu sekarang udah mau minggu lagi. Waktu hidup kita terus bergerak men, semakin mendekat pada masa dimana waktu kita akan habis di dunia ini. Terus udah berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk ibadah kepada-Nya? Dan berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk hal-hal yang tidak berguna? Kalau semua hal yang kita lakukan hanya berorientasi pada dunia, maka kita benar-benar dalam kerugian coy. Mungkin saatnya kita harus mulai mengoreksi kembali semua hal yang kita lakukan, sudah diniatkan untuk ibadah kepada-Nya atau belum? Kalau belum, kita harus segera merubah niat kita rasanya.

Diskusi gue sama mamah gue tentang “waktu” ini bener-bener bikin gue merinding. Soalnya gue juga merasa tertampar dengan kenyataan yang dipaparkan oleh Syeikh Ali Jaber itu. Gue juga merasa banyak hal yang harus gue benahi. Apalagi pas mamah gue bilang kalau masa muda itu banyak-banyakin ibadahnya, karena kita belum tentu ketemu sama masa tua. Terus kalaupun iya kita dipertemukan dengan hari tua, kita tidak bisa menjamin bahwa kita masih dalam keadaan sehat dan mampu untuk beribadah secara layak kepada Allah. Terus mamah gue ingetin gue dan adek-adek gue lagi tentang 5 perkara: Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa hidupmu sebelum datang masa matimu.

Gue jadi teringat juga dengan kata-kata Ibn Qayyim tentang waktu, salah satu kata-kata yang selalu menjadi pengingat gue.

“Wasting time is worse than death because death separates you from this world whereas wasting time separates you from Allah.”

   


Comments

Popular posts from this blog