Skip to main content

Namjoon, My Shining Star

 Aku pernah mendengar sebuah kalimat "jika kau membuat seorang penulis jatuh cinta, maka kau akan abadi dalam setiap bait tulisannya." Aku tidak benar-benar setuju dengan kalimat itu. Aku pernah jatuh cinta, bahkan dibuat patah berkeping-keping karena seseorang. Namun tidak sebaitpun ku tuliskan tentangnya dalam kisah yang aku buat. 

Tapi, semua persepsi ku berubah saat ini. Dalam setiap bait tulisan yang aku buat, otakku dengan jelas menggambarkan tentang sosoknya, seseorang yang tanpa sadar telah merebut perhatianku. Aku membingkai dengan rapih semua tentang dirinya dalam karya yang aku buat. Dia hidup dalam tokoh yang aku ciptakan di dalam dunia imajinasi ku. Apakah aku benar-benar jatuh cinta padanya? Oh, bukan, bukan jatuh cinta. Aku hanya jatuh hati pada sosoknya, mengagumi pribadinya dan cara berpikirnya, dan tenggelam dalam keindahan pandangannya dalam melihat dunia. Bagiku, sosoknya adalah sumber inspirasi yang nyata untuk setiap cerita yang aku buat. Meski pada awalnya aku tidak pernah terpikir untuk menjadikannya objek inspirasi tulisanku. Tapi ternyata, pikiran dan hatiku kali ini berjalan selaras, saling bekerjasama untuk membuat aku menuliskan tentangnya. 

Dia adalah seseorang yang sangat menyukai langit. Baginya, langit adalah tempat yang bisa membuatnya nyaman saat hati dan pikirannya tengah risau, atau saat dia membutuhkan inspirasi. Aku menyadari begitu besar kecintaannya pada langit dan semua misteri di dalamnya lewat syair-syair yang dia tuliskan. Aku tertegun akan hal itu, dan dengan sadar, bahwa saat ini, setiap aku melihat langit maka aku akan mengingat sosoknya. 

Dia adalah si pecinta sepeda, yang darinya terciptalah sebuah karya penuh makna tentang sepeda yang selalu dia kendarai. Saat dia bersepeda, saat angin menerpa seluruh tubuhnya, saat dia mengayuh sepeda itu, maka semua rasa khawatir, sedih, cemas, terasa terbebas bersama dengan sapuan angin. Itulah yang dia tuliskan.

Dia adalah orang yang sangat mencintai buku. Banyak sekalian buku-buku yang telah dibacanya. Dan kekayaan informasi yang dia dapatkan tergambar dengan jelas dari bagaimana dia bertutur kata, dari bagaimana dia bersikap, dari bagaimana dia melihat segala sesuatu dengan begitu cerdas dan bijaksana. Bahkan rasa penasaranku membuat aku juga ikut membaca buku-buku yang dia baca. Dan pada titik ini, aku benar-benar dibuat terkagum dengan sosoknya. Aku tidak lagi merasa perlu mempertanyakan dari mana datangnya semua sikap bijaksananya. Aku menemukan jawabannya dari buku-buku yang dia baca tersebut. 

Dia yang begitu menyukai seni, yang tidak pernah melewatkan untuk mengunjungi galeri-galeri seni dan museum-museum saat dia bepergian ke suatu tempat. Baginya seni adalah sumber inspirasi dan juga cara dia untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk dunia yang melelahkan. 

Oh, lihat, berapa detailnya aku menggambarkan sosoknya. Ya, dia benar-benar sosok yang telah mengambil perhatianku hingga membuat si penulis ini dengan lancar menuliskan dirinya, mengabadikan tentangnya dalam setiap rangkaian aksara yang kuramu. Kau tentu tidak akan mengetahuinya, jika kau telah abadi dalam tulisanku, abadi dalam karya yang aku buat. Biarkan perasaan kagumku padamu tergores dengan indah dalam buku yang aku tulis, karena hanya dalam dunia imajinasilah aku bisa mencurahkan seluruh perasaanku tentang mu. Seseorang yang selamanya hanya bisa aku kagumi dari jauh, dan bagiku itu lebih baik, karena tidak semua keindahan haru dimiliki. Ada saatnya keindahan itu hanya perlu kita kagumi tanpa perlu mengusiknya. Seperti bintang di langit malam, maka itulah kamu. Aku hanya bisa memandangi keindahannya dari bumi tanpa bisa menggapainya dengan tanganku karena kau terlalu jauh untuk aku jangkau. Tapi setidaknya aku selalu bisa melihat mu, dan itu sudah lebih dari cukup.

Comments

Popular posts from this blog