Skip to main content

Komentarmu Adalah Cermin Kualitas Dirimu


Di zaman dengan teknologi semakin maju seperti saat ini, apa-apa menjadi sangat mudah dilakukan. Terutama dalam hal berkomunikasi. Sosial media menjadi platform orang-orang untuk menunjukkan eksistensi mereka. Tidak perduli dari kalangan mana, semua orang dapat berekspresi dengan bebas. Bahkan karena terlalu bebas, mereka lupa akan adab dalam berkomunikasi, dalam bergaul, dalam menyampaikan pendapat, atau dapat aku rangkum adalah dalam menjaga ucapanannya.

Semakin lama, aku merasa semakin jengah dengan tingkah polah orang-orang di sosial media ini. Aku tidak akan membahas sifat “pamer” yang saat ini menjadi trend di sosial media, meski itu juga cukup memuakkan, tapi ada hal yang lebih sangat mengganggu, yaitu bagaimana orang-orang di sosial media ini dalam menanggapi sebuah berita, atau berkomnetar. Mari kita lihat kolom komentar sebuah berita yang di share di sosial media, entah itu tentang showbiz atau berita politik. Lihatlah bagaimana banyak sekali orang-orang yang berkomentar dengan seenak jidat mereka. Menulis komentar-komentar yang berisi sangat sensitive, memojokkan, mencaci maki, atau komentar menganalisa suka-suka hati bin sok tau. Can you imagine this condition?

Lemme tell you something

“Lidah orang berakal berada di belakang hatinya, dan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya-Ali Bin Abi Thalib”

Coba sejenak mari renungkan dan fikirkan kata-kata tersebut, bisakah kita mengambil makna dari kata-kata itu? Bagaimana sang pencipta memberikan manusia hati dan akal fikiran untuk saling bersinergi satu-sama lain. Bagi orang yang berakal tentu dia tidak akan semena-mena dalam berucap, dia akan memikirkan betul baik dan buruknya ucapan mereka. Hati manusia yang baik akan senantiasa menuntun manusia untuk selalu tahu kapan dia harus berkata dan kapan dia sebaiknya diam. Jika tidak ada yang baik untuk diucapkan maka tentunya lebih baik diam, bukan? Dan mari kita lihat bagaimana orang-orang zaman sekarang dengan serta-merta menggunakan mulut mereka untuk berkata, berkomentar, mencemooh, semua seolah tidak ada filter lagi. Bagi mereka, berkomentar di sosial media adalah kebebasan tanpa batas, tak perlu ada tedeng aling-aling dalam berucap. Padahal komentar dan ucapan kalian adalah cermin bagaimana kualitas kalian sebenarnya.

Kenapa aku menulis akan hal ini? Karena rasanya sudah sangat jengah dengan kelakuan orang-orang di sosial media ini. bagaimana mereka menanggapi sebuah berita, komentar mereka yang seringnya sok tahu, bernada sarkas, mengkritik tanpa ada bukti yang valid atau bahkan tanpa memiliki ilmunya, berpendapat tapi dengan kata-kata kasar penuh caci maki, bahkan yang paling menyedihkan dan membuat geram adalah saat mereka telah berkomentar dengan menyerang agama.

Aku jadi mulai berfikir di dunia yang semakin canggih dan maju ini sepertinya bertolak belakang dengan kemajuan pola pikir manusianya. Teknologi semakin canggih, tapi sayang akhlah dan adab manusia semakin terpuruk.

Melalui tulisan ini, aku hanya ingin memberikan opiniku bahwa marilah untuk sama-sama belajar dalam berkomunikasi yang baik dan benar. Jika kita merasa bahwa kita adalah orang berilmu, maka seharusnya kita tahu bahwa betapa pentingnya berhati-hati dalam berucap. Kata-kata yang kita ucapkan, tulisan dan komentar yang kita lontarkan, kelak akan dihisab juga pada hari pembalasan. Dari semoga semua perkataan, tulisan atau komentar yang pernah kita ucapkan akan menjadi pemberat amal kebaikan kita di akhirat kelak, bukan malah justru jalan yang membawa kita malah terjerumus dalam api neraka, naudzubillahimindzalik.

Marilah sama-sama belajar untuk mengendalikan ucapan kita. Jangan sampai menjadi orang bodoh yang hanya pandai berucap tapi tak bernilai.    

Comments

Popular posts from this blog