Di
zaman dengan teknologi semakin maju seperti saat ini, apa-apa menjadi sangat
mudah dilakukan. Terutama dalam hal berkomunikasi. Sosial media menjadi
platform orang-orang untuk menunjukkan eksistensi mereka. Tidak perduli dari
kalangan mana, semua orang dapat berekspresi dengan bebas. Bahkan karena
terlalu bebas, mereka lupa akan adab dalam berkomunikasi, dalam bergaul, dalam
menyampaikan pendapat, atau dapat aku rangkum adalah dalam menjaga ucapanannya.
Semakin
lama, aku merasa semakin jengah dengan tingkah polah orang-orang di sosial
media ini. Aku tidak akan membahas sifat “pamer” yang saat ini menjadi trend di
sosial media, meski itu juga cukup memuakkan, tapi ada hal yang lebih sangat
mengganggu, yaitu bagaimana orang-orang di sosial media ini dalam menanggapi
sebuah berita, atau berkomnetar. Mari kita lihat kolom komentar sebuah berita
yang di share di sosial media, entah itu tentang showbiz atau berita politik. Lihatlah
bagaimana banyak sekali orang-orang yang berkomentar dengan seenak jidat
mereka. Menulis komentar-komentar yang berisi sangat sensitive, memojokkan,
mencaci maki, atau komentar menganalisa suka-suka hati bin sok tau. Can you
imagine this condition?
Lemme
tell you something
“Lidah
orang berakal berada di belakang hatinya, dan hati orang bodoh berada di
belakang lidahnya-Ali Bin Abi Thalib”
Coba
sejenak mari renungkan dan fikirkan kata-kata tersebut, bisakah kita mengambil
makna dari kata-kata itu? Bagaimana sang pencipta memberikan manusia hati dan
akal fikiran untuk saling bersinergi satu-sama lain. Bagi orang yang berakal
tentu dia tidak akan semena-mena dalam berucap, dia akan memikirkan betul baik
dan buruknya ucapan mereka. Hati manusia yang baik akan senantiasa menuntun
manusia untuk selalu tahu kapan dia harus berkata dan kapan dia sebaiknya diam.
Jika tidak ada yang baik untuk diucapkan maka tentunya lebih baik diam, bukan?
Dan mari kita lihat bagaimana orang-orang zaman sekarang dengan serta-merta
menggunakan mulut mereka untuk berkata, berkomentar, mencemooh, semua seolah
tidak ada filter lagi. Bagi mereka, berkomentar di sosial media adalah
kebebasan tanpa batas, tak perlu ada tedeng aling-aling dalam berucap. Padahal komentar
dan ucapan kalian adalah cermin bagaimana kualitas kalian sebenarnya.
Kenapa
aku menulis akan hal ini? Karena rasanya sudah sangat jengah dengan kelakuan
orang-orang di sosial media ini. bagaimana mereka menanggapi sebuah berita,
komentar mereka yang seringnya sok tahu, bernada sarkas, mengkritik tanpa ada
bukti yang valid atau bahkan tanpa memiliki ilmunya, berpendapat tapi dengan
kata-kata kasar penuh caci maki, bahkan yang paling menyedihkan dan membuat
geram adalah saat mereka telah berkomentar dengan menyerang agama.
Aku
jadi mulai berfikir di dunia yang semakin canggih dan maju ini sepertinya
bertolak belakang dengan kemajuan pola pikir manusianya. Teknologi semakin
canggih, tapi sayang akhlah dan adab manusia semakin terpuruk.
Melalui
tulisan ini, aku hanya ingin memberikan opiniku bahwa marilah untuk sama-sama
belajar dalam berkomunikasi yang baik dan benar. Jika kita merasa bahwa kita
adalah orang berilmu, maka seharusnya kita tahu bahwa betapa pentingnya berhati-hati
dalam berucap. Kata-kata yang kita ucapkan, tulisan dan komentar yang kita
lontarkan, kelak akan dihisab juga pada hari pembalasan. Dari semoga semua
perkataan, tulisan atau komentar yang pernah kita ucapkan akan menjadi pemberat
amal kebaikan kita di akhirat kelak, bukan malah justru jalan yang membawa kita
malah terjerumus dalam api neraka, naudzubillahimindzalik.
Marilah
sama-sama belajar untuk mengendalikan ucapan kita. Jangan sampai menjadi orang
bodoh yang hanya pandai berucap tapi tak bernilai.
Comments
Post a Comment