Kuat adalah bukan mereka yang tidak pernah menangis. Bukan pula mereka yang tidak pernah terjatuh. Tapi bagiku, kuat adalah saat diri ini mampu untuk bangkit kembali setelah terjatuh, setelah menangis, setelah kesakitan yang teramat tapi kita memilih untuk menyeka air mata ini, menahan rasa sakit ini, dengan kembali melangkah. Meski harus dengan terseok-seok, tertatih-tatih, bahkan sesekali terjatuh karena masih harus menahan sakit, tapi kita tidak menyerah, kita terus berjalan, hingga akhirnya, Tuhan memampukan kita untuk dapat berlari kembali, atau bahkan, untuk dapat terbang dengan sayap yang kuat dan kokoh.
Ah… aku jadi teringat bagaimana seekor anak burung yang baru menetas dari cangkangnya, dia masih terlihat lemah. Sayapnya masih belum bisa dikepakkan. Sang induk burung harus senantiasa sabar mengurusi anak burung tersebut. Hingga waktupun tiba, ketika sayap anak burung mulai dirasa kuat, sang induk mengajarinya cara untuk terbang. Apakah kau berfikir jika anak burung akan dapat langsung terbang seperti sang induk? Nyatanya tidak, anak burung harus mengalami jatuh berkali-kali, dan sang induk tidak pernah putus asa untuk mengajari anak burung bagaimana mengepakkan sayapnya. Hingga pada akhirnya, si anak burung mampu mengepakkan sayapnya dengan kuat, mengangkatnya terbang tinggi mengarungi luasnya langit.
Tidak apa untuk jatuh, tidak apa jika harus sakit. Tapi jangan menyerah hanya karena itu sulit. Jika seekor burung mampu menghadapi rasa sakitnya, mampu menghadapi rasa takutnya, bukankah manusia yang memiliki banyak fitur yang telah Allah sempurnakan harusnya lebih mampu menghadapi berbagai rintangan dalam hidupnya. Jika kau merasa bahwa kau lemah. Memang, kita ini memang lemah, kita ini tidak akan mampu melakukan apapun jika tanpa pertolongan Tuhan. Maka harusnya kita tahu, kemana kita mencari kekuatan, kemana kita harus berpegang. Bukan kepada manusia, tapi kepada sang pencipta. Aku pernah menulis tentang bagaimana aku merasa sendiri dalam sebuah perjuangan yang luar biasa setahun yang lalu. Hingga akhirnya aku temukan jawaban atas semua rasa lemahku. Bahwa aku tidak membutuhkan orang lain untuk menggenggam tanganku agar aku kuat. Aku hanya butuh genggaman tangan Allah yang akan senantiasa memguatkan setiap langkahku. Manusia sama lemahnya, tidak ada manusia yang kuat didunia ini jika dia tidak berpegang pada tangan Allah. Jika kau berpegang pada manusia, maka yang akan kau dapati hanyalah rasa sakit, karena pada akhirnya kalian akan sama-sama terjatuh atau salah satu tangan kalian akan melepaskan genggaman yang lain. Tapi tangan Tuhan, tidak akan pernah melepaskan hambanya, Ia akan terus menggenggamnya hingga akhirnya kita sampai ditempat tujuan kita. Ia tidak akan membiarkan hambanya terluka, yang sedang Ia ajarkan adalah tentang kekuatan, bahwa kita sedang ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. Dan jika dalam perjalanan itu kita terjatuh, maka Ia siap untuk mengulurkan tangannya, membantu kita, menggenggam tangan kita, membimbing kita untuk akhirnya kita bisa mencapai apa yang sedang kita perjuangkan.
Ada Allah, kenapa harus merasa sendiri. Ada Allah, kenapa harus merasa lemah. Ada Allah, yang saat kau meminta dukungannya, maka tidak ada satu makhlukpun di muka bumi ini yang dapat mengalahkanmu atau bahkan merobohkanmu. Ketika Allah mendukungmu, maka kau akan didukung oleh seluruh penduduk langit, dan saat itulah tidak ada satu kekuatanpun yang mampu mengalahkanmu. Maka bermohonlah kekuatan hanya kepadaNya.
Comments
Post a Comment