Sejak
dulu aku tidak pernah diajarkan tentang mengeluh. Bagaimana setiap saat Tuhan
membawaku pada banyak tantangan yang membuat aku bertumbuh menjadi pribadi yang
semakin tangguh dan kuat. Tapi sepertinya akhir-akhir ini aku sedang berada di
low point phase gitu. Tantangan di semester kedua ini ternyata jauh lebih luar
biasa dibandingkan semester pertama kemarin. Mungkin karena di semester ini
bukan cuma jadwal kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, paper yang harus
dikerjakan, seminar yang sudah di depan mata, tapi juga berbagai kegiatan lain
yang aku ambil. Sungguh aku tidak ingin mengeluh dengan semua itu, aku tahu
semua itu bagian dari berkah luar biasa yang Allah berikan dalam hidupku. Meski
terkadang rasa lelah luar biasa yang harus dirasakan setiap hari bahkan hingga
harus jatuh sakit seperti ini sedikit banyak membuat sedih hati. Rasa lelah ini
sedikit-demi sedikit mengikis semangatku entah bagaimana. Setiap hari yang aku
jalani hanyalah sebuah “rutinitas” tanpa aku merasa bahwa itu berharga untuk
aku jalani. Apakah aku sudah kehilangan motivasi pada impian yang sudah aku
perjuangkan hingga berdarah-darah ini? Ada banyak pertanyaan yang muncul
dikepalaku. Kemanakah semua semangat yang begitu luar biasa yang aku miliki
itu? Apakah semua itu sudah lenyap begitu saja? aku berharap bahwa semua perasaan ini hanyalah perasaan
sementara karena mungkin aku terlalu lelah menjalani banyak sekali kegiatan. Dan
mungkin langkahku ini harus semakin mendekat kepada Allah agar semua perasaan
lelah ini dapat terobati.
Oh…
ya, aku ingin membagi sebuah kisah yang sangat menarik dan mungkin ini juga
menjadi salah satu pengingat untuk ku juga dan untuk semua orang yang mungkin
sedang merasa “lelah”.
Jadi
pada suatu ketika ada seekor kupu-kupu yang masih terperangkap dalam cangkang
kepompongnya. Kupu-kupu tersebut tampak berusaha ingin keluar dari kempompong
yang membalut tubuhnya tersebut. Tapi sayangnya sekeras apapun ia berusaha,
tetap saja ia masih belum dapat berhasil keluar. Lalu ada seorang anak yang menyaksikan
bagaiamana kupu-kupu yang malang itu berusaha keras untuk keluar dari balutan
kepompong tersebut, tapi selalu gagal. Merasa kasihan, si anak tersebut
akhirnya mengambil sebuah gunting. Anak itu datang menghampiri kepompong yang
berisi kupu-kupu yang hendak keluar tersebut. Disobeknya lapisan kepompong yang
membelenggu tubuh si kupu-kupu. Kupu-kupu itu dapat keluar dan si anak sangat
senang melihat si kupu-kupu akhirnya keluar. Tapi apa yang terjadi ternyata di
luar dugaan. Sayapnya tidak dapat mengembang, si kupu-kupu akhirnya tidak
pernah terbang untuk selama-lamanya.
Kau
tahu bahwa perjuangan si kupu-kupu untuk keluar dari cangkang kepompong
tersebut, ternyata bagian dari sebuah proses akhir yang harus ia lalui jika ia
ingin dapat terbang. Si kupu-kupu yang terlihat bersusah payah keluar dari
kopompong ternyata sedang memompa cairan ke sayapnya agar si sayap dapat
mengembang saat tiba waktunya ia keluar dari kepompong nanti. Jika kupu-kupu
itu dipaksa keluar sebelum waktunya tiba, maka yang terjadi seperti pada kisah
di atas. Si kupu-kupu tidak akan pernah bisa terbang. Perjuangannya selama ini
untuk akhirnya menjadi kupu-kupu akan sia-sia. Kita semua tahu tentunya, bahwa
untuk menjadi seekor kupu-kupu yang cantik, si kupu-kupu ini harus melewati
banyak proses yang sulit melalui metamorphosis.
Dari
cerita itu aku seolah mendapat pelajaran yang sangat-sangat berharga. Bahwa gak
ada suatu keberhasilan yang instan. Kita harus melewati serangkaian proses yang
panjang dan berliku, dan mungkin sangat melelahkan juga menyakitkan untuk dapat
mencapai sesuatu yang kita impikan. Seperti si kupu-kupu yang melewati banyak
proses untuk dapat menjadi kupu-kupu yang indah dan dapat terbang. Rasa sakit
dalam sebuah proses perjuangan menjadi sesuatu yang lebih baik ternyata memang
dibutuhkan dan harus dilewati setiap orang, untuk membuat kita semakin kuat.
Seperti yang dikatakan dalam sebuah webtoon yang aku baca.
“Ada kalanya manusia membutuhkan
rasa sakit untuk menjadi kuat.”
Aku
setuju dengan kata-kata tersebut. Take a risk. Karena hal itu akan membuat kita
belajar banyak hal. Kalau kita merasa hidup kita nyaman-nyaman saja, intinya
hidup kita sudah berada di zona paling aman dan nyaman, kita gak akan pernah
bertumbuh. No pain no gain. Rasa
sakit akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh. Setiap rersiko,
tantangan yang kita ambil adalah bagian dari pembelajaran hidup yang akan
memperkaya pengalaman kita.
“Seperti hidup yang tidak sempurna.
Kamu janji, kamu tidak akan menyerah. Cintai impianmu. Cintai kerja kerasmu.
Cintai hidupmu dengan berani -Novel 2-”

Comments
Post a Comment