Bukankah sendirian itu
menyenangkan. Aku sangat menyukai kesendirian, berada dalam dimensiku sendiri
tanpa perlu diganggu oleh orang lain. Aku lebih menikmati sebuah lagu lembut
sambil duduk seorang diri, atau membaca sebuah buku favorit. Aku tidak akan membiarkan
siapapun mengusikku. Aku cukup senang melihat bagaimana orang-orang bersenda
gurau dengan yang lainnya. Aku lebih suka mendengarkan mereka berceloteh banyak
hal yang mungkin terdengar menarik bagi mereka. Dan aku, aku lebih suka membuat
sebuah dinding pembatas yang tinggi antara aku dengan mereka yang bertuliskan,
“Berhenti
disana! jangan menerobos masuk, aku ingin sendirian.”
Tapi ada beberapa orang
yang memang dengan suka rela aku izinkan masuk, untuk sekedar kutemui dan
menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama. Tapi kemudian aku akan kembali
menutup pintunya saat mereka pulang. Aku tidak akan membukanya untuk siapapun
yang tidak aku kenal. Apa aku aneh? Mungkin. Apakah aku merasa bahagia dengan
kesendirian? Sangat.
Tapi beberapa waktu
yang lalu, semua perasaanku seketika memudar. Perasaan yang mengatakan bahwa
aku lebih suka sendirian. Perasaan yang mengatakan bahwa seorang diri lebih
baik. Saat aku berjalan seorang diri menyusuri sebuah jalanan ramai, saat aku
keluar masuk gedung untuk mengurus dokumen-dokumen sekolahku ke luar negeri seorang
diri, yang ternyata itu tidak semudah yang kufikrikan. Saat itu aku merasa bahwa
mungkin semuanya akan lebih ringan saat ada seseorang bersamamu. Menemanimu
melewati semuanya. Aku tidak ingin sendirian lagi. Seketika fikiran itu muncul
begitu saja dalam fikiranku. Mungkin karena aku lelah, mungkin karena aku
merasa nyaris putus asa. Tapi kemudian sebuah suara dari hati kecilku
mengatakan,
“Hei…
kau lebih kuat dari yang kau fikirkan, kau lebih tangguh dari yang kau fikirkan.
Kau perempuan hebat, kau ingat, bahwa kau punya Tuhan yang lebih maha besar
dibandingkan semua rintangan yang harus kau lalui. Kau ingat, bahwa saat
tanganmu selalu menggenggam tangan-Nya, kau tidak akan pernah terjatuh, meski
sebanyak apapun batu terjal yang harus kau lewati. Jangan bersedih, jangan
merasa sendiri, Allah mu, selalu menyertaimu, lebih dekat dari yang kau
fikirkan. Dia tidak pernah meninggalkanmu, Dia tidak pernah melepas tanganmu,
selama kau tetap berpegang pada-Nya. Jadi berhentilah menangis, berhentilah meratap.
Kau perempuan hebat dan tangguh.”
Seketika aku tersadar,
bahwa bukan seseorang yang aku butuhkan. Tapi aku hanya butuh kekuatan
dari-Nya, kekuatan yang akan membuatku berjalan lebih kuat melewati semua
rintangan dihadapanku. Aku hanya butuh kekuatan dari-Nya. Tanganku tidak akan
pernah aku lepas dari-Nya. Biarkan aku mengenggam-Nya terus, agar aku tidak
limbung, agar aku tidak terjatuh. Aku sadar, bahwa hanya dengan berpegang
pada-Nya aku akan benar-benar kuat. Berpegang pada tangan orang lain, pada
akhirnya tidak akan menjamin bahwa aku tidak akan terjatuh. Tangan orang lain
tidak sekuat itu untuk menopangku. Tangan orang lain sama lemahnya denganku.
Dan itu kenapa kau tidak boleh bergantung pada orang lain, karena mereka juga
sedang menghadapi masalah yang mungkin lebih berat dari milikmu. Bagaimana bisa
ia menguatkanmu saat dirinya sendiri pun membutuhkan pegangan.
Aku menyukai
kesendirian, meski aku juga menyukai kebersamaan. Kebersamaan dengan
orang-orang yang aku sayangi dan menyayangiku. Mereka juga menjadi salah satu
kekuatan, kekuatan karena tangan kami saling berpegangan, saling menguatkan,
dengan tidak melepas pegangan kami juga pada-Nya.
Comments
Post a Comment