Skip to main content

Pensive



Beberapa waktu belakangan ini gue dan dua sahabat gue lagi intens banget ngobrol tentang umur kita yang sebentar lagi menyentuh angka seperempat abad. Gue gak sadar kalau ternyata waktu bergerak begitu cepat. Dan sekarang gue bukan lagi si bocah alay yang suka menggalaukan hal-hal remeh temeh, atau pasang-pasang status galau gak jelas di akun sosmed gue. Gue sudah dewasa, sudah saatnya pemikiran gue di upgrade. Udah bukan saatnya lagi bagi gue untuk galau-galau gak jelas. Dewasa memang tidak selalu berpatok pada usia, tapi percayalah, lo akan terlihat konyol jika di usia lo yang sudah dewasa tapi pemikiran dan tingkah laku lo masih seperti anak alay.

Dari obrolan panjang dengan kedua sahabat gue, ada sebuah percakapan yang membuat gue termenung lama, berfikir keras, dan kembali menghitung-hitung usia gue saat ini. Sebuah percakapan yang memang tidak dapat gue hindari di usia gue saat ini, apalagi jika bukan tentang “Pernikahan.”

Jika gue ditanya “kapan nikah?” maka jawaban gue selalu sama “insya Allah diwaktu yang tepat, doakan saja.” Gue tidak pernah memiliki jawaban yang pasti untuk pertanyaan seperti itu. Bagaimana bisa gue menjawab, kalau semua itu bagian dari rahasia Allah. Sering kali orang-orang yang berada direntang usia 20an hingga 30 tahun dan masih berstatus “single” akan merasa diteror dengan pertanyaan seputar pernikahan oleh masyarakat disekitarnya. Hal ini lah yang akhirnya membuat orang-orang yang masih belum menikah pada rentang usia seperti itu merasa stress seolah dikejar-kejar oleh deadline untuk segera menikah.

Gue kerap mendengar teman-teman gue yang belum menikah mulai ngerasain galau setengah mati karena sampai detik ini mereka belum juga dipertemukan dengan jodoh mereka. Keadaan seperti itu jadi semakin sering gue jumpai, bahkan sampe anak-anak yang masih pada sekolah aja atau kuliah yang belum pada rampung, udah mulai nge-galauin jodoh. Gue jadi bingung, apakah ini sebuah fenomena? Sampai-sampai masalah jodoh dibeberapa tahun belakangan ini jadi booming. Gak masalah sih, cuma gimana ya, kalau gue ngerasa aneh aja, karena apa yang selama ini gue tahu bahwa rezeki, maut, dan jodoh itu bagian dari rahasia Allah. Bahkan jauh sebelum kita lahir juga Allah sudah menetapkan jodoh buat kita. Enggak akan ketuker, enggak akan keduluan, enggak akan kesalip, enggak akan ketikung. Semuanya udah ada dalam scenario terbaik Allah.

 Terus kenapa manusia jadi pada galau? Takut dibilang telat nikah? Takut dibilang gak laku? Iri sama temen yang udah nikah dan terlihat bahagia? Atau bagi para perempuan, takut dibilang perawan tua? Kalau hanya ketakutan-ketakutan seperti itu yang ada dalam fikiran lo. Gue rasa (ini menurut pendapat gue pribadi) mungkin itu juga bisa jadi penyebab kenapa lo belum dikasih jodoh sama Allah. Mungkin Allah lagi pengen bikin lo bener-bener dewasa, bahwa menikah bukan hanya karena ketakutan-ketakutan yang didasarkan pada pandangan manusia terhadap kita atau padangan kita terhadap pemikiran orang lain untuk kita. Tapi seharusnya kita menikah karena kita ingin semakin dekat dengan Allah, semakin taat kepadanya, membuat kita terjaga dari zinah, karena menikah itu adalah bagian dari ibadah kepada-Nya. Bukan hanya bagian dari permainan rasa antara dua manusia yang katanya saling mencintai. Menikah juga tetap harus diniatkan karena ingin semakin takwa kepada-Nya. Ini juga bagian dari hubungan kita dengan Allah. Sudahkan kita bisa berfikir seperti itu?

“Barang siapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah Imannya. (HR. Abu Dawud)”

Terus kalau gue ditanya, lo pengen gak cepet nikah? As a human, gue pasti pengen menikah. Tapi pertanyaannya, apakah gue siap untuk menikah? Dalam arti gue harus siap memikul berbagai macam tanggung jawab setelah gue menikah. Seperti harus taat sama suami, nurut apa yang suami bilang, dan dalam konteks yang lebih detail gue harus masakin untuk suami, gue harus pinter-pinter bagi waktu, gue harus berbagi apapapun yang gue punya, kalau seorang suami ngelarang sesuatu maka kita harus nurut, kalau pergi harus izin dulu, kalau gak diizinin gue juga harus nurut buat gak pergi, gue harus menurunkan ke-egoisan gue, belum lagi kalau udah punya anak maka mendidik anak juga harus menjadi prioritas utama dibandingkan diri kita sendiri. Maka jawaban gue adalah, of course gue tidak siap dengan seabreg tanggung jawab tersebut. Alasan gue satu, karena ternyata saat ini prioritas gue bukanlah menikah. Gue masih memiliki impian yang sedang gue perjuangkan, sehingga pola pikir gue masih belum bisa menerima semua tanggung jawab itu. Mungkin suatu hari nanti, saat gue telah mencapai impian gue, akan tiba saatnya gue bisa menerima semua itu, karena gue juga pengen menikah dan menjadi istri yang sholehah (impian banget kan :D). Tapi sebelum gue berfikir untuk menjadi istri sholehah, kayaknya untuk sekarang prioritas gue adalah menjadi anak yang sholehah dulu aja buat orang tua gue tercinta (ich liebe dich mamah und papah :D).  


Hidup itu harus selalu memiliki target, kalau kata sahabat gue kiki sih gitu dalam obrolan kita bertiga tentang usia ini. Dan setiap target manusia itu berbeda-beda. Kita tidak bisa menyamaratakan target setiap orang. Hanya karena banyak orang yang sudah menikah direntang usia 20an sampai 30 tahun, lalu kita menyamaratakan bahwa target utama setiap orang pada rentang usia tersebut adalah menikah atau haruslah menikah. Belum tentu. Dua sahabat gue aja masih belum memikirkan untuk menikah, termasuk gue. Bukan karena kita tidak mentargetkan untuk menikah, tapi kita memiliki prioritas lain selain menikah. Terkadang ketentraman kita (orang-orang modelan gue dan kedua sahabat gue ini, kiki dan Hanna) selalu diusik oleh orang-orang di luar sana yang seolah memandang kita sebagai perempuan yang gak laku-laku kali ya, soalnya betah banget sendirian melulu (gue anti pake kata jomblo, soalnya jomblo itu nasib men, kalau single itu pilihan, pilihan untuk menjadi taat coy, hahaha). Mereka selalu tanya, kapan nikah? Mana calonnya? Padahal mereka tidak pernah tahu apa sebenernya prioritas kami.

Jadi siapapun yang masih suka usil tanya-tanya seperti itu kepada orang lain yang belum menikah. Tolong berhenti. Kalian bukan orang tuanya, kalian tidak tahu apa prioritasnya. Bagi yang sudah menikah syukurilah karena kalian disegerakan mendapatkan jodoh. Dan dari pada bertanya usil seperti, kapan mau nikah? Dan pertanyaan serupa lainnya yang bersifat pribadi. Lebih baik doakan saja orang-orang yang belum menikah agar disegerakan bertemu dengan jodoh terbaiknya. Itu jauh lebih bijaksana. Jangan sampai nanti lo dapat pertanyaan balik, “Kira-kira lo kapan bakal meninggal?” Kira-kira lo bakal jawab apa? So be wise guys.

“Kurang-kurangilah rasa ingin tahu tentang orang lain. Perbanyaklah rasa ingin tahu tentang ide, gagasan, dan pemikiran – Marie Curie”



Comments

  1. gua setuju masa ama lo mbaaa :D thats real happen to me too, in case usia gue masih belia gini jg ga jarang pade nanya gitu. LMFAO

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha yg muda aja udah ditanyain gitu, gimana yg tua kayak ayee begini πŸ˜‚πŸ˜‚ senyumin aja kalo ada yg nanya gitu 😁

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog