Skip to main content

My Hijab, My Dignity




Tulisan ini pernah gue buat untuk sebuah event dan akhirnya gue putuskan untuk menulisnya di blog pribadi gue. Gue berharap semakin banyak orang yang bisa membaca tulisan ini, terutama bagi para kaum perempuan muslim di luar sana yang mungkin masih ragu-ragu buat berjilbab.  Semoga pengalaman gue ini bisa juga memberikan dampak positif buat para kalian gaesss, untuk kita sama-sama belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Honestly, gue juga belum menjadi muslimah yang baik, gue juga punya banyak dosa. Tapi apa salahnya kita berupaya untuk menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Selagi masih ada waktu dan masih diberi kesehatan dan umur yang panjang, insya Allah, hehe... So gaesss ini lah pengalaman gue... 
Tentang hijab bukan hanya sebuah kewajiban, tapi lebih dari itu hijab adalah martabat bagi kaum wanita muslim. Sebuah anjuran yang Allah SWT langsung firmankan dalam kitab suci Al-Quran kepada seluruh wanita muslim di dunia. Tapi sayangnya tidak semua dapat memahami itu karena apa yang saya lihat ternyata tidak semudah itu orang-orang mengimani tentang kewajiban berhijab bagi para muslimah. Termasuk saya.

Keputusan menggunakan jilbab dan mempertahankan jilbab bukanlah hal yang mudah bagi saya. Ada proses panjang yang harus saya lalui untuk sampai kepada titik tersebut. Tidaklah mudah bagi seorang remaja perempuan berusia 15 tahun kala itu untuk memberanikan diri menutup auratnya. Apalagi di tahun 2008 berjilbab masih belum sepopuler sekarang. Jika beberapa tahun belakangan jilbab sudah menjadi trend fashion dikalangan masyarakat dan sudah tidak lagi dicap ketinggalan jaman. Tapi pada tahun ketika saya mulai beranjak remaja yaitu di tahun 2004-2010, jilbab masih menjadi sesuatu yang “sakral” bagi banyak orang. Seolah berjilbab adalah sebuah keputusan heroik dimana tidak semua orang sanggup memulainya dan hanya orang-orang yang memperoleh hidayah yang dapat menjalankannya.

Saat memasuki SMA di usia 14 tahun saya seperti remaja pada umumnya, masih labil, dan lebih suka berpenampilan casual. Saya tidak pernah berfikir untuk mengenakan jilbab apalagi di usia yang masih sangat muda. Bahkan orang tua saya sendiri tidak pernah memaksa saya untuk menutup aurat. Selama saya masih berpakaian sopan, mereka tidak mempermasalahkannya. Tapi saat itu sekolah saya memiliki sebuah peraturan dimana semua siswinya yang beragama islam diwajibkan mengenakan jilbab, karena itu sebuah peraturan jadi tidak ada alasan bagi saya untuk menolaknya, saya pun akhirnya berjilbab. Tapi jilbab yang saya pakai hanyalah sebuah formalitas untuk sekolah, jika di luar sekolah saya masih tetap tidak berjilbab. Tapi sepertinya Allah sangat menyayangi saya.  Allah memberikan hidayah kepada perempuan muda ini untuk selangkah lebih dekat kepadanya. Di sekolah saya dipertemukan dengan lima orang sahabat dekat saya. Hidayah itu datang melalui mereka. Diantara kami ber-6 hanya saya yang masih belum berjilbab, sedangkan mereka sudah berjilbab bahkan sejak SMP. Dahulu saya mungkin termasuk anak yang memiliki pemikiran liberal. Saya tidak bisa menerima begitu saja sebuah aturan atau nasehat jika saya tidak benar-benar tahu apa tujuannya? Apa fungsinya? Kenapa saya harus melakukan itu? Sama halnya ketika banyak orang yang menyuruh saya mengenakan jilbab, saya juga tidak bisa menerima begitu saja nasehat mereka. Memangnya kenapa perempuan muslim harus berjilbab? Menurut saya saat itu, jika kita masih berpakaian sopan, sholat lima waktu, mengaji, dan masih bersikap baik, kenapa juga harus berjilbab. Saat remaja saya sempat berfikiran seperti itu, bahkan saya sangat membenci orang-orang yang gencar sekali menasehati saya untuk berjilbab. Tapi setiap kali saya tanya, kenapa harus berjilbab? Mereka kebanyakan akan mengatakan bahwa ”berjilbab itu wajib kalau tidak berjilbab nanti kamu dosa.” Menurut saya itu bukanlah jawaban yang ingin saya dengar, itu sama sekali tidak menjelaskan apa yang saya tanyakan. Dan hal itu sama sekali tidak menggerakan hati saya untuk berjilbab. Justru hal itu malah memberikan sebuah kesan kepada saya bahwa mereka hanya sedang menggurui saya, mereka itu sok suci, sok alim, dan men-judge saya sebagai seorang pendosa karena belum berjilbab, dan mereka yang sudah berjilbab sebagai orang suci.

Akan tetapi hal itu tidak pernah saya temui dari ke-lima sahabat-sahabat saya. Mereka tidak pernah sedikitpun berniat menyudutkan saya yang masih belum berjilbab. Justru mereka menunjukkan kenapa seorang perempuan muslim itu wajib berjilbab. Saya mendengar cerita-cerita sahabat saya tentang bagaimana sulitnya mereka saat mereka memutuskan untuk berjilbab. Mereka harus mendapati cibiran dari teman-teman sekolahnya saat SMP karena mereka menjadi satu-satunya orang yang berjilbab di sekolah, karena dahulu masih sangat minim sekali orang berjilbab. Bahkan tidak jarang peraturan sekolah yang melarang siswi berjilbab kala itu, membuat mereka juga harus berjuang memperjuangkan haknya untuk diperbolehkan berjilbab dan mempertahankan jilbab mereka di sekolah. Mereka mengatakan, bagi mereka jilbab itu sama pentingnya dengan harga diri mereka. Jika mereka melepas jilbab mereka, itu sama halnya seperti mereka melepaskan harga diri mereka dan itu tidak akan pernah mereka lakukan dengan alasan apapun. Kisah merekalah yang justru menggerakan hati saya sebagai seorang perempuan muslim yang saat itu belum berjilbab untuk mulai mencoba menutup auratnya. Terlebih setelah salah satu dari sahabat saya memberitahu saya tentang kewajiban menutup aurat bagi muslimah yang terdapat dalam surat Al-Ahzab ayat 59. Di rumah, saya mencoba untuk membuka surat tersebut, membaca artinya, dan entah mengapa seketika saya menangis. Ayat tersebut sebenarnya menjelaskan anjuran untuk perempuan muslim menutup aurat, tapi yang saya rasakan seolah saya diingatkan kembali dengan begitu banyaknya dosa yang saya telah lakukan. Dan pada hari itu saya tidak berfikir lama untuk mulai berhijrah menjadi seorang perempuan muslim yang seharusnya, menutup auratnya. Saya tidak ingin berfikir lama karena saat itu yang saya fikirkan bagaimana jika hari itu adalah hari terakhir saya hidup dan saya masih belum melakukan kewajiban saya sebagai seorang muslimah untuk berjilbab. Saya tidak perduli meskipun saat itu saya masih belum memiliki pakaian muslim yang layak untuk dikenakan, saya tetap memutuskan untuk menutup aurat saya. Niat saya hanyalah satu, menjadi manusia lebih baik lagi di hadapan sang pencipta.

Memulai berjilbab bukanlah hal yang mudah, tapi mempertahankan jilbab ini ternyata jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan. Ketika itu usia saya masih 15 tahun saat dimana teman-teman saya yang lain masih banyak yang tidak berjilbab. Apalagi di dalam keluarga saya, ibu saya sendiri tidak berjilbab. Sungguh sangat sulit untuk menjadi istiqamah dengan jilbab saya. Terkadang sebagian dari hati saya ingin melepas jilbab ini dan mengenakan baju-baju kesukaan saya jaman dahulu. Saat itu saya berfikir bahwa saya masih terlalu muda untuk mulai berjilbab sedangkan banyak teman lain yang seumuran saya masih tidak mempermasalahkan jika mereka belum berjilbab. Tapi saya harus kembali mengingat niat saya berjilbab itu apa dan mengingat kembali betapa sulitnya memperoleh hidayah tersebut. Hal itu ternyata cukup manjur membuat saya beristigfar dan kembali istiqamah dengan apa yang sudah saya putuskan untuk menutup aurat. Lagi pula saya selalu teringat tentang apa yang sahabat-sahabat saya katakan, bahwa jilbab adalah martabat seorang perempuan. Jika saya melepasnya, itu sama saja saya mencoreng harga diri saya sendiri sebagai seorang perempuan.

Ketika masih remaja saya memahami berjilbab adalah suatu kewajiban. Maka saat saya menginjak dewasa, saya meyakini bahwa jilbab adalah cara Allah untuk menjaga saya sebagai seorang perempuan. Jilbab adalah harga diri seorang wanita muslim. Saya sadar dengan berjilbab tidak serta-merta menjadikan saya seorang muslimah shalihah. Tapi dengan berjilbab saya justru banyak belajar untuk menjadi muslimah yang lebih baik. Saat saya berjilbab saya seolah didekatkan dengan lingkungan yang lebih baik dan positif, dan dipertemukan dengan orang-orang yang mampu membawa saya menjadi manusia yang jauh lebih baik di hadapan Allah SWT. Jilbab adalah sebuah ‘rem’ bagi saya untuk sedikit-demi sedikit menjauhkan diri dari hal-hal yang buruk yang tidak dianjurkan oleh Allah. Ada sebuah pemahaman yang saya yakini hingga saat ini, bahwa hidayah bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, tapi hidayah adalah milik mereka yang mau mencarinya. Dan saat itu datang, maka jangan pernah ragu-ragu untuk menerimanya. Sama halnya dengan berjilbab, sekarang tidaklah sulit untuk mulai berjilbab karena sudah banyak orang yang memutuskan untuk berjilbab, tidak seperti jaman saya dahulu. Lalu apa salahnya untuk mulai ikut berjilbab, bukan karena kita sudah menjadi wanita yang baik lalu kita berjilbab, tapi itu semata-mata karena kita ingin menjadi wanita yang baik maka kita berjilbab. Paradigma kita yang harus mulai berubah, bahwa berjilbab itu bukan hanya dilakukan bagi mereka yang shalihah, tapi untuk semua wanita muslim di dunia entah itu orang baik atau masih belum baik, itulah yang harus kita pahami. Sedikit mengutip kata-kata seorang wanita hebat yang saya kagumi, seorang wanita muslim peraih Nobel Peace Prize Tawakul Karman. Ketika beliau ditanya tentang hijabnya oleh seorang Jurnalis, dan inilah jawaban luar biasa yang ia sampaikan.

“Man in the early times was almost naked, and as his intellect evolved he started wearing clothes. What I’m today and what I’m wearing represents the highest level of thought and civilization that man has achieved, and is not regressive. It’s the removal of clothes again that is regressive back to ancient times.”




Comments

Popular posts from this blog