Skip to main content

Do What You Want To Do

Malam-malam gini sambil ditemani lagu-lagunya Adhitia Sofyan yang enak banget didengerin, mulai dari “Tokyo Light Fade Away” sampe “Blue Sky Collapse” yang intinya semua lagu-lagu Adhitia itu aku suka pake banget. Terus malem ini aku kayak dibuat throwback ke masa-masa dahulu kala. Masa dimana seorang Gilang Akbariani masih suka melakukan hobi “macem-macem” nya yang kadang bikin aku sendiri bertanya-tanya “Kok ternyata aku bisa ya?” Tapi beberapa tahun belakangan karena suatu kesibukan ini dan itu (gila sok sibuk banget yee haha…) aku jadi merasa kehilangan banyak hal. Sesuatu yang dulu bisa aku lakukan, sekarang seolah nguap gitu aja. Dan yang bikin aku makin mak jlebb adalah saat my mama bilang gini,

“Dulu waktu SMP perasaan mamah liat kamu pinter ngelukis deh, kok udah gak pernah ngelukis lagi?”

Waktu mama ngomong gitu aku langsung kepikiran. Sumpah aku malah lupa dulu aku bisa sesuka itu ngelukis. Aku memang gak bisa dikatakan jago atau bahkan expert buat ngelukis. Tapi dulu aku sangat-sangat suka melukis. Jaman SMP kelas 2 aku rajin banget ngelukis. Bahkan dulu aku punya segala macam peralatan melukis, bahkan kuas buat ngelukis aja aku punya dari berbagai ukuran. Intinya dulu udah berasa pelukis professional biarpun aslinya masih amatiran. Tiap weekend kerjaannya pasti ngelukis, abis itu hasil lukisannya aku pajang aja sendiri di kamar. Enggak begitu bagus sih, tapi aku cukup puas dengan hasil karyaku sendiri, at least mamah ku muji kalau lukisan aku keren untuk anak seusia aku, haha…  

Terus beberapa hari yang lalu kerinduan aku untuk melukis setelah 10 tahun gak pernah lagi megang kuas dan cat air, akhirnya terobati. Aku mulai ngelukis lagi dan gak tanggung-tanggung sekalinya ngelukis lagi langsung di kanvas coy, seneng banget sumpah bisa kembali melakukan hobi yang udah sekian lama ditinggalkan. Biarpun saat memulai lagi tangan nih rasanya kaku banget buat megang kuas. Gila aja kan udah 10 tahun, bayangin kalau selama 10 tahun itu aku konsisten untuk terus melatih cara aku melukis, pasti sekarang udah jadi professional kali ya. Tapi sayangnya aku berhenti waktu udah masuk kelas 3 SMP gara-gara mau Ujian Nasional. Dan sejak saat itu praktis aku berhenti ngelukis sampe akhirnya bisa ngelukis lagi kemarin.



Lukisan Pertama Setelah 10 Tahun (is it childlike? It's ok :D)












Setelah kejadian itu aku ngerasain banyak banget hal yang udah pernah aku lakukan dan akhirnya aku tinggalin. Hobi yang aku suka yang dengan serta-merta aku lupain gitu aja, yang seharusnya mungkin aku bisa berkarya kalau aku tetap stick on it. Tapi nyatanya aku sering banget berhenti. Dulu aku suka nulis dan aku suka nulis dari jaman SD, abis itu aku tinggalin gitu aja hobiku dengan dalih aku terlalu sibuk sekolah lah, ekstrakurikuler lah, atau seabreg alasan lainnya. Sampai akhirnya hobi itu aku lupain dan mulai muncul kembali waktu di bangku kuliah. Itupun karena akhirnya aku dipertemukan dengan seseroang yang punya hobi nulis yang sama kayak aku. Sejak saat itu aku seolah disadarkan dan mulai kembali menekuni hobi nulis itu sampai sekarang. Cukup tertatih pada awalnya karena kenyataanya aku udah gak pernah nulis lagi sejak lulus SD sampai masuk kuliah. Dan bahkan saking lamanya gak pernah nulis dan dilatih menulis, aku sampe lupa gimana caranya berimajinasi, memunculkan ide cerita seru, membuat plot yang baik, dan menciptakan karakter tokoh yang kuat. Butuh waktu lama untuk melatih kembali kemampuan menulis ku dan bagaimana memunculkan ide-ide menarik. Bukan hanya itu, butuh banyak kegagalan juga untuk akhirnya aku tahu gimana cara menulis novel yang menarik.

Beberapa tahun yang lalu aku juga mulai belajar main biola dan karena ini dan itu lagi-lagi aku harus kembali berhenti. Rasanya tiap kali ngeliat biola aku teronggok gitu aja di sudut kamar ada perasaan bersalah. Betapa dulu aku begitu semangatnya buat latihan biola. Dan sekarang biola itu hanya terdiam di sudut kamar. Bahkan aku gak punya waktu untuk sekedar menengok gimana kabar biola aku, apakah masih baik-baik aja atau mungkin udah perlu diganti senarnya, atau hanya sekedar ngecek nadanya aja aku seolah gak ada waktu. Sedih rasanya, dulu aku udah cukup bisa baca not balok, tapi sekarang jangan ditanya, udah nguap entah kemana. Enggak tahu deh kapan akan ada waktu buat latihan biola lagi, buat main musik bareng adik-adik aku lagi. Dulu kita pernah punya impian buat main musik bareng. Adek aku yang cowok yang memang jago dalam segala alat musik katanya mau main gitar, terus adek aku yang cewek yang bisa piano dia bakal main piano, dan aku bakal main biola. Terus kita kolaborasi, konser ala-ala aja di rumah, di depan keluarga sendiri. Tapi sayang, kayaknya impian itu harus tertunda dan entah kapan akan terealisasi karena sekarang aku juga gak yakin masih bisa main biola.

Seperti yang aku bilang tadi, banyak hal yang pernah aku lakukan dan dulu aku pernah bisa tapi akhirnya harus berhenti. Aku tahu bahwa manusia gak mungkin menjadi expert dalam segala hal, dan aku juga tidak mengharapkan bahwa aku akan jago dalam segala hal. Tapi setidaknya aku bisa melakukan banyak hal (tentunya hal yang positif) dan memunculkan semua potensi yang ada dalam diri dan mengasahnya. Aku selalu percaya akan satu hal bahwa Tuhan sudah memberikan potensi besar dalam diri kita. Tinggal bagaimana kitanya saja, akankah kita menyadarinya dan mulai mengasahnya, atau hanya membiarkannya tenggelam begitu saja tanpa pernah kita sadari. Kalau ditanya apa cita-cita kamu? Aku akan menjawab dengan yakin bahwa cita-cita aku adalah menjadi seorang ilmuan dibidang Natural Science. Tapi itu tidak seharusnya membatasi kemampuan ku untuk mengeksplor potensi dalam diri aku hanya sebatas pada ilmu-ilmu tersebut. Aku suka nulis, aku suka melukis, dan aku suka main biola, jadi apa salahnya kalau aku mengasah juga hal-hal yang aku suka itu. Tidak ada salahnya kan menjadi seorang scientist dan juga seniman. Apa salahnya? Bukankah Albert Einstein juga dulu seorang ilmuan dan juga mahir bermain biola. Bahkan dalam salah satu quote nya beliau pernah bilang bahwa “Imajinasi itu lebih penting dari pada ilmu pengetahuan” itu berarti kemapuan manusia jangan hanya dibatasi pada satu hal. Tuhan menciptakan otak manusia itu ada yang disebut otak kanan dan otak kiri. Fungsinya apa? Bukan untuk memilih bahwa kita lebih suka pake otak kanan dari pada otak kiri, ataupun sebaliknya. Justru menurut aku kita diperintahkan untuk mengoptimalkan semua hal yang sudah Tuhan berikan dalam diri kita. Kalau ada yang bilang, “Kok aku gak punya bakat ya?” Aku rasa pemikiran tersebut harus mulai dirubah. Dari pada memikirkan bakat, kenapa kita tidak mencoba saja melakukan apa yang bisa kita lakukan dan apa yang kita sukai dan mengasahnya. Kemarin-kemarin aku juga gak pernah berfikir bahwa aku bisa merajut. Awalnya aku selalu berfikir bahwa merajut itu rumit, sulit, dan kayaknya aku gak mungkin bisa. Tapi akhirnya aku tergelitik buat mencoba. Aku belajar cara merajut itu gimana. Awalnya memang sulit dan berkali-kali salah, malah itu benang wol sampe ruet bin kusut gara-gara selalu salah dan berkali-kali harus ngulang. Tapi pada akhirnya aku bisa sekarang ngerajut. Dan rasanya cukup senang saat udah bisa bikin dompet rajutan sendiri. Biarpun masih sebatas hal sederhana kayak bikin dompet, tapi rasanya seneng banget coy karena akhirnya aku bisa bilang sama diri aku sendiri bahwa aku mampu kalau niat dan mau usaha.

Aku percaya bahwa di dalam diri manusia ada banyak potensi besar untuk menjadi sesuatu yang bermakna. Tuhan gak pernah menciptakan manusia itu tanpa dilengkapi dengan hal-hal yang hebat di dalam dirinya, yang membatasi kemampuan kita itu sebenernya ya diri kita sendiri. So aku mau mencobanya, mencoba memaksimalkan apa yang sudah Tuhan beri, dan setiap orang pun dapat mencobanya. Lakukan yang terbaik untuk hidup yang hanya satu kali ini dengan hal-hal yang bermakna, bukan hal-hal buruk dan omong kosong. Satu kali kita hidup dan penuhi hidup dengan warna-warna yang indah, jadi diakhir masa saat sudah tiba saatnya kita bertemu dengan sang pencipta tidak ada hal yang kita sesali. Manusia selalu berpotensi menjadi baik dan menjadi buruk. Tapi manusia yang bijak dan sadar bahwa hidup hanyalah sementara dan sesaat akan selalu memilih untuk menggali potensinya dan memaksimalkannya untuk menjadi pribadi yang baik.   


Comments

Popular posts from this blog