Tengah
malam ini gue baru aja bbm-an sama sahabat gue, Tyas. Biasalah kita ngobrolin
hal-hal ngalor-ngidul gak jelas. Intinya sih awalnya kita lagi ngobrolin
masa-masa konyol kita jaman kuliah. Mulai dari si Tyas sekarang jadi trauma
setiap kali denger suara-suara Kereta mau jalan sampe suara-suara pemberitahuan
di stasiun, gara-gara jaman dahulu kita suka ketinggalan kereta api dan kejar-kejaran
sama kereta, haha. Dan ditengah-tengah obrolan gak jelas kita akhirnya kita
teringat akan “sesosok makhluk hidup” yang malah jadi main focus obrolan kita. Kenapa
“makhluk” ini tiba-tiba jadi bahan obrolan kita? Karena doi ini bener-bener “makhluk”
special yang tidak seharusnya dilestarikan.
Gini
ya, seandainya lo punya seorang teman dan lo deket dengan teman tersebut. Lo
itu udah ngebantuin dia saat dia lagi butuh bantuan. Dengan muka memelas dia
mohon-mohon sama lo buat dibantuin urusannya dan dia juga janji sama lo bakal
bantuin lo kalau lo lagi kesusahan. Berhubung lo ini orangnya baik hati dan gak
tegaan akhirnya lo bantuin lah si temen lo ini dengan sepenuh hati. Urusan dia
beres. Terus tiba-tiba di waktu berikutnya lo yang lagi kesusahan dan butuh
bantuan dari temen lo yang udah lo bantuin itu karena dulu dia pernah janji
untuk bantuin lo saat lo lagi kesusahan. Tapi ternyata, si temen lo ini malah
dengan tega gak bantuin lo sama sekali, padahal saat itu lo lagi bener-bener
butuh bantuan dia. Dia memberikan banyak alasan yang intinya dia males buat
bantuin lo. Dan si manusia menyebalkan ini ngejauhin lo setelah urusan dia
selesai dan dia gak peduli dengan urusan lo. Terus kira-kira gimana reaksi lo
saat menghadapi manusia model gitu? Gak cukup hanya dengan merasa kesal dan
marah-marah pastinya, kan? Sebagai manusia biasa yang jauh dari kata sempurna,
sesabar-sabarnya gue pasti akan ada di satu titik dimana amarah gue juga akan
muncak menghadapi manusia model begitu. Mungkin ini juga yang dirasakan sahabat
gue si Tyas saat menghadapi manusia menyebalkan tersebut. Bertahun-tahun gue
udah sahabatan lama sama Tyas, tapi gue baru tahu kenapa selama ini Tyas masih
dendam sama seorang makhluk ini. Gue gak bisa nyalahin sahabat gue karena belum
bisa maafin orang tersebut. It’s obviously annoying man. Rasanya gak salah
kalau Tyas sampe emosi dan dia pengen banget nyiram muka itu orang pake air
spiteng (mungkin kalau boleh gue tambahin, nih orang kayaknya perlu di ruqiah
sekalian, bisa jadi banyak setannya). Dan gue baru tahu juga ternyata ada loh
manusia model begitu, yang sukanya memanfaatkan orang lain demi tercapainya
tujuan dia. Abis dia udah mencapai apa yang dia inginkan dan dia udah gak butuh
lo lagi, dia akan membuang lo jauh-jauh dari hidup dia.
Entah
gue yang terlalu polos atau mungkin gue yang terlalu bodoh karena gue selalu
menganggap bahwa semua orang itu baik. Gue gak pernah berfikir bahwa dunia ini
ternyata memiliki dua sisi, hitam dan putih. Bahwa di dunia ini juga tidak
hanya dipenuhi malaikat tapi juga iblis. Gue harusnya sadar bahwa tidak semua
orang yang gue kenal dan gue temui adalah orang baik. Bahwa akan ada orang-orang
yang hanya akan memanfaatkan diri lo untuk kepentingan mereka. Mungkin
pembelajaran yang bisa gue ambil dari apa yang sudah menimpa sahabat gue ini
adalah cukup untuk tidak mengharapakan kebaikan dari orang yang kita tolong
setelah kita menolongnya. Kalau orang ini cukup tahu diri dan dia akan
mengingat kebaikan lo sebagai suatu kebaikan yang patut untuk dihargai maka lo
harus bersyukur. Tapi kalau orang yang lo tolong ternyata tidak menghargai
kebaikan lo, cukup lo tinggalkan saja orang tersebut. I believe that you reap
what you sow. Kita tidak perlu khawatir karena akan tiba pada saatnya dimana
Allah akan membalas kebaikan kita melalui orang lain dan juga sebaliknya. Dunia
ini bermain adil coy. Lo jangan mengira bahwa lo bisa menjadi manusia seenak
jidat lo, memperlakukan orang lain sekehendak lo, tanpa lo tahu bahwa semua
yang lo lakukan akan ada balasannya, akan ada timbal baliknya. Semua itu hanya
menunggu waktu kira-kira kapan Tuhan akan mebalasnya. Syukur-syukur sih di
dunia setidaknya kita bisa bertaubat, kalau sampe keburukan kita di balas di
akhirat? Habislah sudah. Naudzubillah.
Comments
Post a Comment