Skip to main content

The Eternal Love


Pernah menonton drama Korea “the Heirs”? Saya yakin hampir setiap orang, khususnya anak muda pasti sangat menggandrungi drama yang dibintangi oleh sang aktor tampan Lee Min Ho tersebut, termasuk saya tentunya. Ada sebuah scene di drama tersebut, di mana sang aktor tengah mengikuti suatu pelajaran di sekolahnya. Di sana sang Professor bertanya tentang sebuah kata yang paling indah dalam bahasa inggris di dunia. Dan jawabannya adalah “Mother”. Ya, ibu, sebuah kata sederhana tetapi memiliki makna yang sangat luar biasa di hati anak-anak di seluruh dunia, tanpa terkecuali.

Seorang ibu adalah seorang wanita yang diciptakan oleh Allah dengan kehebatan dan ketangguhan luar biasa. Semua orang tentu tahu jika seorang ibu rela bersusah-payah dalam mengandung anaknya selama Sembilan bulan. Tidak ada yang sanggup melakukan hal tersebut jika bukan seorang wanita yang kelak akan dipanggil ibu oleh anak yang dikandungnya itu. Bagi ibu, tidak pernah ada masalah seberapapun susahnya ia atau seberapapun lelahnya ia, selama anak yang dikandungnya selalu baik-baik saja, ibu akan selalu mampu menahannya. Bahkan saat ia akan melahirkan anaknya ke dunia ini, seorang ibu rela bertaruh nyawa demi anaknya. Siapa yang mampu melakukan tindakan se-heroik itu, jika bukan seorang wanita luar biasa yang kita panggil “Ibu”. Dan perjuangan seorang ibu tidak berakhir sampai disitu saja, ia masih harus rela menyusui anaknya selama dua tahun. Perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anaknya akan terus berlanjut hingga anak itu dewasa, dan akan terus berlanjut hingga sang maha pencipta mengambilnya dari anak-anaknya.

Bagi saya, mamah adalah seorang ibu yang sangat luar biasa hebat. Saya tahu bagaimana perjuangannya dalam membesarkan saya dan ke dua adik saya. Tidak pernah ada perjuangan yang mudah, bukan? Begitupun perjuangan mamah dalam membesarkan kami. Saya masih mengingatnya dengan jelas, mamah adalah guru pertama yang mengajarkan saya membaca dan berhitung saat saya masih di taman kanak-kanak. Dia pula yang menjadi guru pertama saya dalam mengajarkan mengaji dan sholat. Mamah  adalah seorang ibu yang tegas, dia tidak pernah memanjakan anak-anaknya, dan tidak pernah mentolerir kemalasan anak-anaknya, terutama dalam hal belajar dan ibadah. Terkadang kami merasa kesal dan sebal dengan aturan-aturan yang dibuatnya. Tapi setelah kami dewasa, kami tahu, semua itu dilakukannya demi kebaikan anak-anaknya. Dan menurut saya, apa yang mamah lakukan untuk anak-anaknya sangatlah tepat. Saya mungkin tidak akan pernah tumbuh menjadi seorang anak perempuan setangguh ini, jika saat saya kecil mamah mendidik saya dengan cara memanjakan saya.

Saya mungkin tidak tahu bagaiamana rasanya menjadi seorang ibu, tapi saya tahu bahwa pekerjaan menjadi seorang ibu bukanlah pekerjaan yang mudah. Saya bisa melihat itu dari bagaimana mamah saya dalam membesarkan dan mendidik saya dan adik-adik saya. Pekerjaan seorang ibu adalah pekerjaan yang luar biasa mulia. Seorang ibu harus rela bangun lebih pagi dari anak-anak dan suaminya, demi menyediakan sarapan pagi bagi anggota keluarganya. Belum lagi semua pekerjaan rumah tangga yang tidak jarang harus menguras seluruh tenaga dan waktu seorang ibu. Ini bukanlah pernyataan hiperbola yang dilebih-lebihkan tentang bagaiaman pekerjaan seorang ibu dalam rumah tangga. Ini adalah fakta yang seharusnya memang disadari oleh seluruh anak di seluruh dunia, termasuk saya. Bahwa pekerjaan menjadi seorang ibu adalah pekerjaan tersulit. Sejak terbit fajar dan sampai tenggelamnya matahari, mungkin pekerjaan seorang ibu tidak pernah berakhir begitu saja. Coba bayangkan, jika saat malam hari anaknya sakit, siapa yang akan merawatnya? Siapa yang akan menjaganya sepanjang malam? Jawabannya tentu saja, Ibu. Dan mungkin itulah mengapa Allah sangat mengharuskan kita untuk memuliakan seorang ibu. Bahkan Rosulullah memberikan bagian tiga perempat anjuran seorang anak untuk berbakti kepada ibu, dan seperempat untuk berbakti pada ayah, karena perjuangan ibu untuk membesarkan anak-anaknya sangatlah berat. Itulah sebabnya kita sebagai anak sangat dilarang menyakiti hati ibu jika kita tidak ingin di cap sebagai anak durhaka oleh Allah. Naudzubillah.

Ibu adalah gambaran sebuah cinta yang tidak akan pernah mati tertelan waktu. Jika ada orang yang membanggakan cintanya terhadap pasangannya, maka tidak pernah ada setengahnya pun besarnya cinta itu dibandingkan cinta seorang ibu terhadap anaknya. Tidak ada yang mampu mencintai kita dengan sebegitu tulusnya jika bukan seorang ibu. Cinta seorang ibu tidak akan pernah berakhir meskipun anaknya kini telah tumbuh dewasa dan mungkin memiliki keluarga sendiri. Terkadang anaklah yang sering lupa terhadap ibunya, lupa terhadap orang tuanya, lupa bahwa siapa yang lebih dahulu mencintainya dengan sepenuh hati. Bagi seorang ibu anaknya adalah pusat dunianya sampai kapanpun juga. Tapi bagi seorang anak, itu menjadi tidak berlaku saat ia telah tumbuh dewasa dan memiliki keluarga sendiri. Tapi seorang ibu tidak akan pernah hilang dari hati anak-anaknya sampai kapanpun juga. Saya sangat mencintai mamah saya, walau saya tahu bahwa cinta saya mungkin tidak pernah bisa menandingi cinta mama untuk saya.

Alles Liebe zum Muttertag. An der besten Mutter der Welt. Ich Liebe dich Mamah.

“When time will fade, your words won’t fade
When time will fade, your smile still hypnotize
Mother when you tell your stories
Children of the world will listen”
(Mother by Adithia Sofyan)

Comments

Popular posts from this blog