“Ya Rosulullah, aku sebenarnya
tidak sakit, tapi aku sangat sedih jika berpisah dan tidak bertemu denganmu
walaupun sekejap. Jika dapat bertemu, barulah hatiku tenang dan gembira sekali.
Jika memikirkan akhirat, hatiku bertambah cemas, takut tidak dapat bersama
denganmu. Kedudukanmu sudah tentu di surga yang tinggi, sementara aku mungkin
di surga paling bawah atau tidak dimasukkan ke dalam surga. Ketika itu aku
tentu tidak berjumpa lagi denganmu… ”─Tsauban.
Aku
tidak tahu harus menulis apa tentangmu ya Rosulullah. Aku tidak tahu harus
berkata apa tentangmu. Betapa kami (semua umat islam di seluruh dunia) tentu
sangat merindukanmu, rindu yang tidak terkira. Ijinkan aku untuk menuliskan
ini, tulisan kerinduanku sebagai umatmu. Tulis ini adalah tulisan yang nantinya
akan menjadi pengingat bagiku. Jika suatu hari nanti tanpa aku inginkan dan
tanpa aku sadari, hatiku lalai, atau aku tergelincir ke dalam hal yang tidak
kau sukai dan tentu tidak Allah sukai. Saat aku kembali membaca apa yang ku
tulis ini, aku akan kembali sadar dan kembali pada apa yang engkau ajarkan.
Ya
Rosulullah, terimakasih karena telah membawa kami ke dalam dunia yang terang
benderang. Terimakasih karena telah membebaskan kami dari zaman zahiliah. Entah
apa jadinya kami jika Islam tidak datang ke dalam kehidupan kami. Aku tidak
ingin membayangkannya. Terimakasih karena telah mengenalkan Islam kepada kami.
Agama yang penuh kedamaian, agama yang penuh kasih sayang, agama yang
mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar. Terimakasih untuk semua perjuangan dan
pengorbananmu untuk kami. Dan aku sungguh berterimakasih kepada Allah yang
telah mengizinkan aku lahir sebagai seorang muslim. Terimakasih karena aku
dilahirkan dari keluarga yang senantiasa menjunjung nilai-nilai Islam dalam
kehidupannya. Terimakasih karena aku diberikan ke dua orang tua yang selalu
menanamkan nilai-nilai kebaiakan Islam kepada anak-anaknya sejak anaknya lahir
hingga dewasa seperti sekarang ini. Terimakasih Allah karena engkau membawaku
pada kehidupan yang dikelilingi oleh orang-orang baik.
Aku
menyadari, bahwa aku masih belum sempurna sebagai seorang muslim. Aku mengatakan
bahwa aku sangat mencintaimu, Ya Rosul dan aku sangat mencintai Allah. Tapi aku
sadar, apa yang selama ini aku lakukan mungkin tidak jarang justru malah
menyakiti engkau dan Allah. Allah tidak membutuhkan ibadah kami untuk-Nya. Kami
lah yang membutuhkan-Nya. Kami lah yang tidak bisa hidup tanpa-Nya. Tapi
terkadang kami begitu sombong dan angkuh, hingga kami durhaka pada-Nya. Dan
tentu itu membuatmu sedih, Ya Rosul. Mendengar kisahmu yang begitu mencintai
umatmu, membuatku menangis. Disaat engkau memiliki para sahabat dan keluarga
yang begitu mencintaimu dengan sepenuh hati. Tapi di saat terakhir hidupmu,
yang engkau ingat adalah umatmu. Engkau memikirkan kami, engkau memikirkan
bagaimana keadaan kami saat engkau meninggalkan kami.
Aku
tidak pernah bertemu denganmu, aku tidak pernah mengenalmu secara langsung. Tapi
mendengar kisahmu, mendengar perjuanganmu, mendengar pengorbananmu, mendengar
kelembutanmu, bahkan terhadap musuhmu. Mendengar kesabaranmu, bahkan disaat ada
yang menghinamu. Mendengar kesederhanaanmu, bahkan disaat begitu mulianya
engkau di mata umatmu dan tentu saja dihadapan Allah. Aku mencintaimu, ya
Rosulullah. Aku sungguh mencintaimu. Engkau adalah teladan bagiku dan seluruh
umat Islam. Dan bagiku the highest level
of love adalah cinta Allah terhadap hambanya, dan cintamu terhadap umatmu.
Tidak ada yang mampu menandingi cinta itu, tidak ada, dan tidak akan pernah
ada. Aku tidak mempercayai cinta yang lain selain itu. Bahkan di hari pembalasan
nanti, engkau akan membela kami, saat kami diadili dihadapan pengadilan maha
adil milik Allah. Di hari itu kami membutuhkan safaat mu, safaat yang akan
menolong kami. Begitu besar cintamu pada kami, ya Rosul. Dan begitu sedikit
yang kami lakukan untuk membalas cintamu. Maafkan aku, maafkan kami.
Sholawat serta salam
kami sanjungkan kepada junjungan nabi Muhammad SAW. Semoga kami dapat berjumpa
denganmu dan juga berjumpa dengan Allah, di surga Allah nanti.

Comments
Post a Comment