Skip to main content

My Beloved Prophet Muhammad SAW

“Ya Rosulullah, aku sebenarnya tidak sakit, tapi aku sangat sedih jika berpisah dan tidak bertemu denganmu walaupun sekejap. Jika dapat bertemu, barulah hatiku tenang dan gembira sekali. Jika memikirkan akhirat, hatiku bertambah cemas, takut tidak dapat bersama denganmu. Kedudukanmu sudah tentu di surga yang tinggi, sementara aku mungkin di surga paling bawah atau tidak dimasukkan ke dalam surga. Ketika itu aku tentu tidak berjumpa lagi denganmu… ”─Tsauban.

Aku tidak tahu harus menulis apa tentangmu ya Rosulullah. Aku tidak tahu harus berkata apa tentangmu. Betapa kami (semua umat islam di seluruh dunia) tentu sangat merindukanmu, rindu yang tidak terkira. Ijinkan aku untuk menuliskan ini, tulisan kerinduanku sebagai umatmu. Tulis ini adalah tulisan yang nantinya akan menjadi pengingat bagiku. Jika suatu hari nanti tanpa aku inginkan dan tanpa aku sadari, hatiku lalai, atau aku tergelincir ke dalam hal yang tidak kau sukai dan tentu tidak Allah sukai. Saat aku kembali membaca apa yang ku tulis ini, aku akan kembali sadar dan kembali pada apa yang engkau ajarkan.

Ya Rosulullah, terimakasih karena telah membawa kami ke dalam dunia yang terang benderang. Terimakasih karena telah membebaskan kami dari zaman zahiliah. Entah apa jadinya kami jika Islam tidak datang ke dalam kehidupan kami. Aku tidak ingin membayangkannya. Terimakasih karena telah mengenalkan Islam kepada kami. Agama yang penuh kedamaian, agama yang penuh kasih sayang, agama yang mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar. Terimakasih untuk semua perjuangan dan pengorbananmu untuk kami. Dan aku sungguh berterimakasih kepada Allah yang telah mengizinkan aku lahir sebagai seorang muslim. Terimakasih karena aku dilahirkan dari keluarga yang senantiasa menjunjung nilai-nilai Islam dalam kehidupannya. Terimakasih karena aku diberikan ke dua orang tua yang selalu menanamkan nilai-nilai kebaiakan Islam kepada anak-anaknya sejak anaknya lahir hingga dewasa seperti sekarang ini. Terimakasih Allah karena engkau membawaku pada kehidupan yang dikelilingi oleh orang-orang baik.

Aku menyadari, bahwa aku masih belum sempurna sebagai seorang muslim. Aku mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu, Ya Rosul dan aku sangat mencintai Allah. Tapi aku sadar, apa yang selama ini aku lakukan mungkin tidak jarang justru malah menyakiti engkau dan Allah. Allah tidak membutuhkan ibadah kami untuk-Nya. Kami lah yang membutuhkan-Nya. Kami lah yang tidak bisa hidup tanpa-Nya. Tapi terkadang kami begitu sombong dan angkuh, hingga kami durhaka pada-Nya. Dan tentu itu membuatmu sedih, Ya Rosul. Mendengar kisahmu yang begitu mencintai umatmu, membuatku menangis. Disaat engkau memiliki para sahabat dan keluarga yang begitu mencintaimu dengan sepenuh hati. Tapi di saat terakhir hidupmu, yang engkau ingat adalah umatmu. Engkau memikirkan kami, engkau memikirkan bagaimana keadaan kami saat engkau meninggalkan kami.

Aku tidak pernah bertemu denganmu, aku tidak pernah mengenalmu secara langsung. Tapi mendengar kisahmu, mendengar perjuanganmu, mendengar pengorbananmu, mendengar kelembutanmu, bahkan terhadap musuhmu. Mendengar kesabaranmu, bahkan disaat ada yang menghinamu. Mendengar kesederhanaanmu, bahkan disaat begitu mulianya engkau di mata umatmu dan tentu saja dihadapan Allah. Aku mencintaimu, ya Rosulullah. Aku sungguh mencintaimu. Engkau adalah teladan bagiku dan seluruh umat Islam. Dan bagiku the highest level of love adalah cinta Allah terhadap hambanya, dan cintamu terhadap umatmu. Tidak ada yang mampu menandingi cinta itu, tidak ada, dan tidak akan pernah ada. Aku tidak mempercayai cinta yang lain selain itu. Bahkan di hari pembalasan nanti, engkau akan membela kami, saat kami diadili dihadapan pengadilan maha adil milik Allah. Di hari itu kami membutuhkan safaat mu, safaat yang akan menolong kami. Begitu besar cintamu pada kami, ya Rosul. Dan begitu sedikit yang kami lakukan untuk membalas cintamu. Maafkan aku, maafkan kami.  

Sholawat serta salam kami sanjungkan kepada junjungan nabi Muhammad SAW. Semoga kami dapat berjumpa denganmu dan juga berjumpa dengan Allah, di surga Allah nanti. 


Comments

Popular posts from this blog