Beberapa
bulan belakangan entah kenapa lagi suka banget nge-blog. Padahal dari jaman SMA
udah punya blog, tapi gak pernah punya eager buat nulis di blog kecuali cerpen.
Makannya blog jaman SMA dulu isinya cerpen semua. Dan akhirnya bikin blog baru
yang khusus buat nulis-nulis gak jelas tentang pemikiran yang sedang gue
fikirkan, haha. Nulis di blog itu kayak lagi curhat, berhubung gue gak punya
tempat buat nuangin unek-unek di otak (kecuali sama Allah, the one and only
tempat curhat masalah gue yang sangat pribadi). Jadilah gue nulis aja di blog.
Tahun
2016 sebentar lagi udah mau berakhir dan akan berganti dengan tahun baru. Terus
di tahun ini gue lagi coba merenung tentang apa aja yang udah gue lakukan untuk
impian gue dan masa depan gue. Di tahun lalu gue ngerasa bahwa gue sangat
morat-marit dalam perjuangan gue untuk mencapai impian gue. Banyak hal yang gue
rasa salah di tahun lalu. Tapi apapun itu gue banyak belajar di tahun 2015
lalu. Gue banyak belajar dari kesalahan gue di tahun lalu. Terus memasuki 2016
gue mulai menyusun semuanya dengan lebih matang, karena gue udah belajar dari
kesalahan. Dan ternyata di tahun ini banyak hal luar biasa terjadi dalam
perjalanan hidup gue.
Pertama,
di awal tahun, gue udah dihentak dengan sebuah KEGAGALAN, dimana gue gagal dapet beasiswa yang
gue apply. Rasanya gimana pas dapet e-mail dari pihak universitas bersangkutan
kalau gue gagal? Sakitnya tuh disini man. Saat lo udah berjuang terus lo gagal,
pasti ada rasa kecewa di hati. Itu pasti. Tapi dari situ gue gak gitu aja
terpuruk. Gue belajar banyak dari kegagalan gue ini. Banyak hal yang gue review
dari kegagalan gue. Kenapa gue bisa gagal? Kenapa mereka gak nerima gue?
Intinya gue review semuanya. Dan akhirnya gue bisa memahami dan menerima dengan
lapang dada sama hal tersebut. Soalnya gue sadar ternyata gue emang kurang
maksimal sama aplikasi gue kemaren. Akhirnya gue memutuskan untuk kembali
bangkit dan semangat dengan membenahi kemampuan diri gue. Apakah gue belum
menyerah? Tentu saja gue belum menyerah dan gak akan pernah menyerah.
Kedua,
di tahun ini gue kembali mencoba ikut lomba nulis Novel. Kenapa gue bilang kembali? Karena di tahun sebelumnya dan
beberapa kali gue udah pernah ikut lomba nulis. Di tahun 2015, gue pernah ikut
lomba nulis dan hasilnya, gue GAGAL coy. Tapi seperti biasa, gue
gak mau menyerah. Gue ikut lagi lomba nulis dipertengahan tahun, dan hasilnya
kembali gue GAGAL. Dari serangkaian kegagalan yang gue terima, ada satu
pemikiran gue yang mulai bilang “Mungkin
gue emang gak bakat buat nulis dan jadi penulis.” Tapi abis itu gue seolah
mendapat petunjuk dari Allah. Tiba-tiba gue baca sebuah artikel tentang seorang
penulis komik gitu. Disitu Dia bilang “Buat
saya determinasi dan effort lebih penting daripada bakat.” Dari situ lah gue
mulai berfikir bahwa ini bukan hanya tentang bakat. Kalau lo suka dan lo
bekerja keras gue rasa setiap orang bisa melampaui diri mereka. Dan gue mulai
semangat lagi. Bagi gue nulis adalah sesuatu yang sangat gue sukai dari jaman
gue masih umur 10 tahun. Gue inget di usia gue yang baru 10 tahun gue pernah
menjuarai lomba menulis diajang Porseni gitu. Meskipun cuma jadi juara ke 2
tapi gue udah bersyukur dan happy
banget. Setelah serangkaian kegagalan gue sebelumnya, gue juga jadi rajin
baca-baca tentang gimana sih caranya menulis novel yang baik dan menarik. Dari
ilmu yang gue dapat, gue mulai kembali me-review tulisan gue selama ini. Dan
akhinya gue bisa paham kenapa gue selalu gagal. Oh karena tulisan gue masih gini, oh ternyata tulisan gue kurang ini,
oh harusnya gue lebih kayak gini, dll. Intinya gue belajar dari pengalaman
kegagalan gue selama ini. Bener banget kalau banyak orang bijak yang bilang “Kegagalan adalah guru yang paling
bijaksana” karena dari kegagalan itu kita banyak belajar. Coba banyangin kalau
hidup kita isinya berhasil terus, gue rasa kita gak akan banyak belajar. If you have never failed, you’ve never tried
anything new. Di bulan September
gue baca lagi tentang lomba nulis Novel dari penerbit Araska. Gue akhirnya
kembali semangat buat nyoba ikut lomba tersebut. Kali ini gue nulis dengan
sepenuh hati, gue mencoba mengerahkan segala macam kemampuan gue. Dan singkat
cerita pas pengumuman tiba, gue kaget banget pas gue bisa jadi juara ke 4 dari
lima juara yang diberikan. Jujur waktu itu gue seneng banget dan tentu saja
bersyukur sama Allah. Tanpa campur tanganNya, gue gak akan pernah bisa mencapai
apapun. Orang tua gue aja ikut happy. Satu keberhasilan membuat gue kembali
semakin bersemangat. Gue semakin percaya, saat kita mau berusaha dengan keras,
terus berdoa, dan tidak pernah menyerah. Akan ada saatnya semua yang kita
impikan akan terwujud. Sudah banyak yang membuktikannya.
Ketiga,
di tahun 2016 yang hampir habis ini gue mulai memberanikan diri untuk keluar
dari comfort zone dan rasa takut gue.
Gue mulai ikut berbagai macam kegiatan yang berskala Internasional. Gue rasa,
ini udah saatnya gue harus berani menunjukkan diri gue dan mengalahkan rasa
takut gue. Selama ini gue selalu takut kalau mau ikut kegiatan-kegiatan
Internasional. Alasannya adalah, gue takut ngomong pake bahasa Inggris. Padahal
gue sendiri punya rencana buat studi lanjut ke luar negeri. Tapi gue masih
takut ngomong bahasa Inggris. Kan gue merasa jadi orang konyol. Akhirnya gue
putuskan untuk melawan rasa takut gue. Di pertengahan November gue apply
kegiatan Generation Green, modelnya
kayak International Youth Summit gitu
di Brunei Darussalam. Ada seleksinya untuk bisa terlibat di acara tersebut. Dan
gue belum dapet pengumumannya. Tapi apapun nanti pengumumannya, meskipun nanti
gue gagal ikut acara tersebut, gue tidak akan pernah menyesal karena gue udah
pernah apply. Setidaknya gue udah selangkah lebih maju untuk menjadi anak muda
yang mau belajar dan mau mengalahkan rasa takutnya. Terus di bulan Desember
ini, gue juga apply kegiatan Young Social
Entrepreneur di Singapore. Ada seleksinya juga dan pengumumannya masih
tahun depan. Tapi apapun nanti hasilnya, selama gue udah berusaha dengan
sebaik-baiknya, gue gak akan merasa menyesal. Berharapnya tentu aja gue bisa
terpilih ikut acara-acara tersebut biar gue bisa banyak dapet pengalaman, ilmu,
dan wawasan.
Sebagai
anak muda Indonesia, jujur gue merasa malu sama diri gue sendiri karena belum
bisa memberi kontribusi apapun untuk Negara gue. Itu sebabnya gue selalu
semangat banget untuk men-challenge diri gue dengan ikut berbagai macam
kegiatan yang bisa meningkatkan soft skill, menambah insight dan knowledge gue
tentang banyak hal, yang gue harap nantinya bisa berguna untuk Negara gue
tercinta ini. Dan juga pursue my master degree sampe ke luar negeri. Harapan
gue tentu bukan hanya untuk kehidupan gue aja, tapi juga berharap dan sangat
berharap di masa depan gue bisa menjadi anak muda yang memberikan kontribusi
secara nyata untuk Negara gue. Saat ini mungkin gue hanya bisa melakukannya
dengan hal-hal kecil. Tapi gue harap itu bisa sedikit memberikan manfaat.
Keempat,
di akhir tahun ini, gue juga lagi relentless pursuit buat nyari professor
pembimbing buat studi master gue. Jadi gue akan mulai berjuang lagi untuk apply
berbagai macam beasiswa S2. Dan langkah pertama gue adalah mencari professor
pembimbing gitu. Gue deg-degan gitu sih buat nge e-mail para professor
tersebut. Banyak banget ketakutan-ketakutan tak beralasan yang berseliweran di
otak gue. Tapi sekuat tenaga gue mencoba mengalahkan rasa takut gue ini. Gue
berharap semoga di bulan ini sampai bulan Januari nanti, gue bisa mendapatkan
professor yang tertarik sama proposal riset gue, aamiin. Intinya gue akan
berjuang habis-habisan kali ini untuk mencapai impian gue. Gimana nanti
akhirnya, gue akan sepenuhnya menyerahkan sama Allah, yang pasti tugas gue saat
ini adalah berjuang habis-habisan, berdoa habis-habisan, terus let Allah do the
rest. Biar kita selalu sadar betapa kita manusia ini bukanlah siapa-siapa tanpa
Allah. Allah plans are greater than mine.
Gue
teringat obrolan gue sama Mba Maretha, dia bilang “diluar sana selalu banyak orang yang lebih hebat dan lebih pintar dari
kita dengan kualifikasi yang mungkin lebih dari kita ataupun sama dengan kita.
Lalu apa yang membedakan diri kita dengan mereka. Kedekatan kita kepada sang
penciptalah yang akhirnya membedakan kita. When Allah supports you, then no one
can defeat you.”
Intinya
dalam segala hal, selalu sertakan Allah dalam perjalanan kita, karena
seberapapun hebatnya orang lain dibanding kita. Kalau kita selalu dekat
dengan-Nya, maka saat Allah mendukung dan ridho akan perjuangan kita. Tidak ada
seorangpun yang bisa mengalahkan kita, karena tidak ada satu makhluk pun di
dunia ini yang mampu menandingi kekuatan dan kemahabesaran Allah, sebagai Tuhan
sang pencipta.

Comments
Post a Comment