Jika
kita berbicara tentang kemanusiaan tentu ini bukanlah pembicaraan yang
sederhana. Masalah kemanusiaan selalu menjadi masalah yang dialami oleh hampir
seluruh Negara, tanpa terkecuali. Dan kenapa tiba-tiba gue nulis tentang ini? Terlepas
dari apa yang akhir-akhir ini diberitakan, tentang Suriah dan Aleppo. Gue jadi
teringat dengan Negara gue sendiri yang tentu tidak dapat dikatakan bebas dari
masalah kemanusiaan.
But
anyways, ditulisan ini gue lagi pengen menyuarakan suara gue untuk saudara-saudara
gue yang saat ini tengah mengalami tindakan ketidak adilan. Setelah beberapa
waktu yang lalu gue seolah “ditampar” oleh twittan yang mengatakan “Bukan saatnya lo diem. Lo harus bersuara,
biar dunia tahu kalau kita mengecam peperangan tersebut.” Sebenernya
twittannya pake bahasa inggris, tapi gue tulis pake bahasa gue aja. Tapi
sebenarnya gue gak diem-diem juga sih. Gue juga melakukan sesuatu walaupun masih
sebatas kemampuan yang bisa gue lakukan untuk mungkin sedikit membantu mereka.
Tapi mungkin twittan itu ada benarnya. Dengan berbicara maka kita akan didengar.
Beberapa
waktu belakang ini, dan itu sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Peperangan
di Suriah masih terus berlangsung. Terlalu rumit buat gue pribadi untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Perang
saudara, perebutan kekuasaan, atau apapun itu, perang tetaplah perang. Apapun
alasan yang mendasari terjadinya perang tersebut, gue tidak pernah ingin setuju
apalagi membenarkannya.
Hampir
setiap pagi gue lihat chanel Internasional di TV terus menayangkan tentang apa
yang sedang terjadi di Aleppo. Gue tidak tahu seperti apa kota tersebut sebelum
terjadinya peperangan. Tapi gue yakin, kota Aleppo sama seperti kota pada
umunya yang tentu saja menyimpan banyak keindahan didalamnya. Tapi apa yang terjadi
sekarang? Gue hanya melihat bangunan-bangunan yang telah runtuh, hancur tak
berbentuk. Kota itu nyaris seperti kota mati. Puing-puing bangunan seolah
menjadi saksi bisu atas pembantaian kemanusiaan di sana. Ini adalah bencana
kemanusiaan yang sangat keji. Gue tidak perduli apa yang kaum elit politik itu
perebutkan. Tapi bisakah mereka sedikit saja memiliki nurani untuk melihat
penderitaan warga sipil Aleppo yang tidak bersalah menjadi korban atas tindakan
mereka? Apakah mereka benar-benar tidak memiliki nurani bahkan akal sehat untuk
sejenak berfikir bahwa apa yang telah mereka lakukan telah membunuh ratusan
ribu warga tidak bersalah. Jutaan orang harus kehilang tempat tinggalnya.
Bahkan lebih sadis lagi, mereka harus terusir dari negeri mereka sendiri, tanah
tempat tinggal mereka, rumah mereka. Anak-anak kehilangan masa kecilnya yang
indah. Dan yang sangat menyayat hati adalah saat melihat hampir setiap hari
banyak warga sipil yang meninggal karena peperangan yang keji itu. Entah berapa
banyak anak-anak yang kehilangan orang tua mereka. Orang tua yang kehilangan
anak mereka. Suami yang kehilangan istrinya. Istri yang kehilangan suaminya.
Dan masih banyak lagi penderitaan yang harus mereka tanggung hanya karena ulah
keji sekelompok orang egois yang hanya mementingkan kekuasaan kelompoknya
masing-masing.
Sebagai
seorang manusia gue tentu sangat sakit melihat apa yang terjadi terhadap para
korban peperangan yang tidak bersalah itu. Gue memikirkan tentang bagaimana
anak-anak korban peperangan tersebut dapat melangsungkan hidupnya? Gue tahu ada
banyak relawan yang senantiasa akan membantu mereka. Tapi bukan itu yang
menjadi pertanyaan gue di sini. Luka yang mereka alamilah yang menjadi
pertanyaan gue. Luka yang akan terus membekas di hati tiap anak korban peperangan
tersebut. Luka yang mungkin akan mereka bawa selamanya hingga mereka dewasa.
Kehilangan, penderitaan, masa kecil yang terenggut dengan sadis. Di usia
kanak-kanak mereka, mereka harus mengalami serangkaian kejadian yang begitu
mengerikan. Bahkan bagi orang dewasa sendiri, mengalami banyak hal yang
mengerikan tentu akan meninggalkan trauma tersendiri. Apalagi jika trauma itu
dialami oleh anak-anak. Ini sungguh tidak adil. Sangat-sangat tidak adil bagi
anak-anak tersebut dan tentu bagi semua korban tidak bersalah.
Apakah
mereka yang kini sedang berseteru dalam perebutan kekuasaan itu tidak bisa
berfikir sejenak. Bagaimana jika hal itu terjadi pada keluarga mereka.
Bagaimana jika itu terjadi pada anak-anak mereka. Bagiaman jika mereka melihat
keluarga dan anak-anak mereka terbunuh dengan sadis, sama seperti apa yang
mereka lakukan terhadap anak-anak dan banyak orang yang kini menjadi korban
atas ulah mereka. Bisakah sebelum mereka bertindak, mereka coba menempatkan
diri mereka diposisi orang-orang tidak bersalah yang justru menjadi korban atas
kekejian mereka itu, bisakah? Oh atau mungkin memang sejak awal mereka adalah
sekelompok orang yang memang tidak memiliki nurani dan akal fikiran. Sehingga
mereka tidak tahu bagaimana cara seorang MANUSIA hidup di dunia ini. Manusia
adalah makhluk hidup yang dilengkapi dengan hati nurani dan akal, itulah yang
membedakan kita dengan makhluk lainnya. Manusia memiliki hati nurani yang tidak
akan mungkin tega membunuh sesama manusia lainnya. Manusia tentu memiliki akal
untuk mengetahui dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Itulah
betapa maha besarnya Allah menciptakan manusia dengan begitu sempurna. Jadi
apakah orang yang tidak memiliki hati nurani dan akal seperti “mereka” pantas
disebut MANUSIA?
“Oh Allah yang maha besar, aku tahu engkau tentu melihat semua kekejaman
mereka. Aku tahu akan tiba saatnya engkau bertindak untuk menghancurkan mereka
yang bertindak keji dan melampaui batas. Janji-Mu selalu benar. Mereka akan
menerima balasan atas apa yang telah mereka perbuat. Allah yang maha agung,
semoga mereka yang menjadi korban atas kekejian itu akan senantiasa mendapat
banyak hal baik dari-Mu setelah semua yang telah mereka lalui. Aku percaya
Allah akan membantu para korban tidak bersalah tersebut. Sembuhkanlah hati
anak-anak tidak berdosa itu dari semua luka yang telah mereka rasakan. Semoga anak-anak
itu senantiasa hidup jauh lebih baik di masa depan. Aamiin”
Apa
yang bisa kita bantu untuk mereka, mari kita lakukan. Hoping the world will
find peace and stop resorting to violence.

Comments
Post a Comment